Senin, Juli 27, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 15 - Enroute Istanbul Jakarta


   
Ramadhan Holiday 2015 – Day 15 – Enroute Istanbul Jakarta

Kami mendarat di Istanbul jam 10 malam, berarti ada waktu 4 jam sebelum kami terbang lagi ke Jakarta jam 2 pagi. Tentu saja waktu ini tidak disia-siakan bagiku untuk “mengambil napas” di smoking area dan buang air di toilet. Jujur buat saya ini satu kenikmatan karena toilet di dekat Food Court bandara Attaturk Istanbul memiliki semprotan air buat bersih-bersih. Rasanya belum tega kalau hanya diusap-usap pakai kertas tisue. Ha… Dasar aku memang orang kampung, belum bisa cebok pakai tisue.

Makanan yang paling ngangeni di Istanbul adalah ice cream dan Turkish Delightnya. Turkish Ice Cream di lidah saya kok rasanya lezat sekali. Bentuknya molor seperti karet dan rasanya macam-macam. Namanya “dondurma” dan konon ice cream ini berasal dari daerah Maras, maka juga terkenal dengan nama “maras ice cream”. Walaupun ice cream Turki memang popular, tetapi data menunjukkan bahwa konsumsi ice cream per kapita di Turki masih tergolong rendah kalau dibandingkan dengan USA apalagi New Zealand, the heaven of ice cream. Di New Zealand orang mengkonsumsi 22 – 24 l ice cream per kapita per tahun dan di US 18,3 l sedangkan di Turki hanya 2,8 l. Saya ndak tahu data di Indonesia. Rasanya sih angkanya di bawah 1 l per kapita per tahun. Ice cream di Indonesia hanya popular di kalangan anak kecil kelas menengah dan beberapa orang dewasa tertentu saja. Bahkan saya masih ingat waktu masih kecil dilarang makan ice cream karena dipercaya bisa menyebabkan pilek dan batuk.

Turkish Delight adalah semacam permen gel kenyel-kenyel yang rasanya macam-macam. Bentuknya kubus kecil ukuran 1,5 cm dan ditaburi gula putih. Saya sih paling suka yang rasanya (isinya) double roasted pistachios. Ndak terlalu manis, tetapi rasanya unik. Konon “cemilan” ini berasal dari Arab dan sudah mulai diperkenalkan di Turki sejak tahun 1777. Saya beberapa kali mendapatkan oleh-oleh dari rekan yang jalan ke Turki. Dan di pesawat juga diberi “sample” satu potong. Pintar strateginya, biar penumpangnya belanja di bandara. Buat oleh-oleh ini memang yang paling praktis dan mengena. Bawanya pun ndak terlalu repot.

Di bandara Attaturk Turki kami juga sempat bertemu beberapa rombongan tour, di antaranya dari ATS juga. Langsung deh kita saling berkenalan dan bercerita seputar perjalanan tour yang mengasyikan. Kelihatannya banyak orang Indonesia yang mengakhiri tournya di hari ini. Banyak pula para pekerja Indonesia yang menumpang pesawat yang kami tumpangi. Mungkin separuh dari pesawat terisi orang Indonesia. Maklum ini khan perjalanan ke Jakarta, jadi banyak orang Indonesianya.

Perjalanan panjang dari Istanbul ke Jakarta yang memakan waktu 13 jam banyak saya isi dengan tidur. Badan terasa remuk redam setelah digelandang selama 15 hari angkut koper dari satu hotel ke hotel lain. Ingin segera merasakan nyamannya kasur sendiri dengan guling kesayangan sesudah menyiram badan dengan air hangat dan cebok dengan jet washer yang kencang. Sudah terbayang pula makan sayur asam dengan ikan asin dan tentu saja tempe serta tahu goreng aci yang menjadi menu wajib tiap hari di rumahku. Maklum aku khan berasal dari Slawi (Tegal) yang terkenal dengan tahunya.

Tepat pukul 6 sore kami mendarat di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Setelah bersalam-salaman kami berpisah. Ini adalah akhir dari sebuah perjalanan bersama selama 15 hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Kita sekarang kembali ke tanah air untuk kembali menimbun pundi-pundi agar bisa dipakai buat liburan berikutnya.

Kisah perjalanan ini saya buat dan posting, bukan untuk memamerkan bisa liburan ke luar negeri. Tetapi sekedar berbagi cerita kepada rekan dan sahabat. Siapa tahu ada rekan yang akan menempuh rute yang sama, sehingga bisa mempelajarinya lebih awal. Terima kasih buat seluruh rekan-rekan peserta tour buat kebersamaannya. Sebuah pengalaman yang indah untuk dikenang.