Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label General. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 29, 2018

Sinta Nuriyah : Pak Harris Turino Pasti Menggunakan Amanah Dengan Baik

Adalah satu kehormatan yang luar biasa bahwa saya bisa diterima oleh ibu Sinta Nuriyah Abdulrachman Wahid di kediaman beliau di Ciganjur dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan.

Sinta Nuriyah Pak Harris Turino Semoga Dapat Menggunakan Amanah Dengan Baik
Sinta Nuriyah Pak Harris Turino Semoga Dapat Menggunakan Amanah Dengan Baik
Sambil duduk di kursi roda Ibu memberikan restu bagi saya untuk maju sebagai Calon Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.

Pesan Ibu Sinta jelas dan lugas agar saya benar-benar menggunakan amanah ini untuk memperjuangkan kepentingan warga di Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kabupaten Brebes.

Harris Turino Kurniawan DPR RI

Terima kasih Ibu atas doa dan restunya. Saya juga akan sampaikan salam Ibu buat rekan-rekan Gusdurian di Dapil saya.

Senin, Maret 23, 2015

Sindrom De Javu

Carlos Ghosn adalah sebuah nama yang sangat fenomenal waktu menjabat sebagai CEO Nissan tahun 2000 sampai 2005. Dia sangat sukses dalam memimpin proses turn around pada Nissan Motor Corporation setelah bekerja sama dengan Renault dalam bentuk swap ownership. Saat itu Nissan berada di ambang kebangkrutan karena menghadapi masalah cash flow dan kultural yang seperti benang kusut. Kebijakannya dalam membentuk Cross Functional Team (CFT) untuk menjalankan Nissan Revival Plan (NRP) berhasil mengatasi hambatan kultural dan finansial yang saat itu menjerat Nissan. Berkat prestasinya, maka pada tahun 2003 mendapatkan gelar “Man of the Year” dari Fortune Magazine Asia, pada tahun 2005 Carlos Ghosn diangkat menjadi double CEO Nissan dan Renault dan pada tahun 2010 mendapatkan gelar “The Seven Most Powerful South Americans” dari majalah Forbes. Yang menarik adalah prestasinya di Nissan - Renault ternyata tidak sefantastis waktu dia memimpin proses turn around di Nissan. Ada apa gerangan? Di belahan dunia yang lain Ignatius Jonan sangat fenomenal waktu memimpin PT. KAI dan berhasil mereformasi PT. KAI dari perusahaan yang sangat kental dengan budaya in-efficiency karyawan sejak masih menjadi Jawatan Kereta Api di jaman Belanda, menjadi perusahaan yang punya budaya “performance based” seperti saat ini. Jelas ini adalah perubahan revolusioner yang diawali dengan mengganti hampir semua jajaran direktur yang menjadi direct report Jonan dengan orang-orang yang mumpuni dan berkomitmen. Akibat prestasinya yang luar biasa, orang banyak menaruh harap kepada Jonan ketika diangkat menjadi Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi. Beberapa langkah terobosan sudah dilakukan, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan. Ada apa gerangan? Dari dua ilustrasi di atas, menarik untuk dicermati bahwa kesuksesan luar biasa di masa lalu tidak selalu bisa menjamin penciptaan kesuksesan yang sama di masa mendatang. Situasi dan tantangan yang dihadapi berbeda, dan yang lebih penting lagi adalah team pendukung (followers) atau direct reportnya juga berbeda. Kita tidak bisa serta merta menggunakan strategi yang persis sama dengan strategi di mana kita berhasil mencetak kesuksesan di masa lalu. Copy dan paste jelas tidak menjamin keberhasilan. Perlu dilakukan adaptasi bahkan perubahan strategi yang radikal akibat perbedaan kondisi lingkungan yang dihadapi. Banyak pemimpin yang terjebak dengan sindrom de javu, yang sering menyebabkan pemimpin terjebak dengan keberhasilan di masa lalu. Dalam ilmu manajemen stratejik dikenal konsep Dynamic Managerial Capabilities (Adner and Helfat, 2003), yaitu kemampuan pimpinan untuk mengelola organisasi dalam lingkungan yang berbeda-beda. Pada kasus Goshn, Renault tidak dalam situasi krisis seperti halnya Nissan di akhir tahun 1990-an. Strategi turnaround Nissan tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan strategi pertumbuhan di Renault. Pada kasus Jonan, PT KAI lebih mirip seperti organisasi bisnis berorientasi profit dan relatif sedikit pengaruh dari politik. Sedangkan Kementerian Perhubungan adalah organisasi non profit yang sarat dengan kepentingan politik. Memakai strategi yang mirip PT. KAI pada Kementerian Perhubungan akan menurunkan efektifitas strategi tersebut. Jika mau copy dan paste, Jonan perlu merubah dan menambah hal-hal baru yang bersifat terobosan untuk mengulang sukses. Intinya adalah apa yang kita harapkan dari kedua tokoh tersebut bukan pada strategi apa yang telah mereka lakukan sebelumnya, namun lebih pada kemampuannya dalam memodifikasi cara-cara lamanya yang lebih sesuai dengan lingkungan barunya. Itulah hakekat seorang pemimpin. Mari kita melakukan PERUBAHAN. Jangan terjebak pada sindrom de javu.

Rabu, September 18, 2013

Paradoks Sistem Transportasi Massal - Kompas Siang 17 September 2013

Baru-baru ini kita dengar bahwa dalam waktu dekat akan segera diluncurkan mobil murah ramah lingkungan oleh Toyota dan Daihatsu yang dibandrol pada kisaran harga di bawah 100 juta rupiah. Bahkan konon sudah lebih dari 18.000 unit mobil tersebut ludes dipesan pada peluncuran perdananya. Pertumbuhan jumlah kendaraan ini tampaknya susah dihindari mengingat belum tersedianya sistem transportasi massal yang memadai. Bisa dibayangkan kemacetan jalanan di Ibukota yang akan menjadi semakin parah. Tanpa adanya terobosan yang berarti pada sistem transportasi massal diperkirakan kota Jakarta akan lumpuh dalam 3 - 4 tahun ke depan dengan semakin pesatnya pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi oleh penambahan panjang jalan yang memadai. Sistem transportasi massal di Indonesia memang boleh dikatakan unik dan mengandung unsur paradoks. Bila di kota-kota metropolitan dunia sistem transportasi massal bergerak membesar dalam hal daya angkut, di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya. Sejarah menunjukkan pada jaman penjajahan Belanda dulu trem yang memiliki daya angkut besar sudah beroperasi di kawasan kota Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jaman, trem menghilang dan digantikan oleh bus PPD dan Damri, lalu ditambahkan Metromini dan Kopaja yang memiliki daya angkut yang lebih kecil lagi dan akhirnya malahan menjadi semakin kecil dengan Mikrolet. Dengan sistem transportasi massal yang seperti ini, mudah diduga bahkan kemacetan pasti akan terjadi dan akan semakin parah di masa mendatang. Dengan kemacetan yang membuat ekonomi transportasi biaya tinggi, baik dalam hal pemborosan energi maupun waktu tempuh, maka merebaknya pemakaian sepeda motor menjadi suatu keniscayaan yang sulit dihindari. Sepuluh tahun yang lalu penulis sudah pernah mengingatkan mengenai pertumbuhan sepeda motor ini kepada Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, bahwa apabila tidak dikendalikan maka kondisi lalu lintas di Jakarta bisa menjadi seperti di kota Ho Chi Minh City (HCMC) di Vietnam, di mana satu mobil bisa dikepung oleh puluhan sepeda motor. Bahkan sekarang yang terjadi di Jakarta sudah jauh lebih parah dibandingkan dengan HCMC. Berbeda dengan penanganan banjir yang memang dibutuhkan dana yang sangat besar dan harus melibatkan pemerintah pusat, kemacetan ini sebenarnya bisa ditangani dengan selembar kertas, yaitu berupa peraturan. Belajar dari pengalaman beberapa pemerintah kota Metropolitan di dunia dalam menyiasati kemacetan lalu lintas, tidak ada jalan lain kecuali dengan memberlakukan pembatasan jumlah kendaraan. Pemerintah kota Beijing, Shanghai dan bahkan Lagos di Nigeria memberlakukan pelarangan sepeda motor untuk beroperasi di jalan-jalan protokol. Singapura menerapkan pengenaan bea masuk dan pajak kendaraan bermotor yang sangat tinggi, pembatasan usia kendaraan bermotor yang boleh beroperasi, pengenaan biaya parkir yang sangat mahal, serta penerapan ERP untuk rute-rute jalan protokol. Wacana seperti itu hampir tidak pernah terdengar, kecuali mengenai kebijakan penerapan sistem ganjil genap dan ERP. Kebijakan tersebut memang tidak popular dan membutuhkan keberanian yang tinggi untuk melaksanakannya. Dan tentu saja hal ini harus diimbangi dengan percepatan pembangunan sistem transportasi massal yang memadai. Di balik kesuraman wajah sistem transportasi di Indonesia, sebuah berita positif terbersit, yaitu dengan akan dimulainya pembangunan MRT tahap satu rute Lebak Bulus - Kota pada bulan Oktober 2013 ini. Rencana ini sebenarnya sudah tertunda hampir 25 tahun dan sudah melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur di DKI, dan baru kali inilah Jokowi berhasil merealisasikannya. Harus pula segera dipersiapkan pembangunan MRT tahap berikutnya. Semoga proses pembangunan MRT ini tidak akan tertunda lagi oleh berbagai konflik kepentingan, baik ekonomi maupun politik, terutama menjelang tahun pemilu 2014. Media sebagai kekuatan yang luar biasa perlu membantu mengawal kesuksesan pembangunan sistem transportasi massal ini. Niscaya Jakarta akan menjadi kota yang lebih beradab. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Ephoria Jokowi - Rasional atau Bubble? - Kompas Siang 27 Agustus 2013

Meningkatnya popularitas Joko Widodo (Jokowi) akhir-akhir ini memunculkan eforia yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Masyarakat seolah-olah telah menemukan figur Ratu Adil yang selama ini diimpikan, terutama sejak era reformasi bergulir. Setiap gerakan Jokowi, dan wakilnya Ahok, selalu mendapat apresiasi dan pujian secara luas di seluruh media, baik media massa, TV, media cetak, media on line, serta media sosial. Sejak dilantik menjadi Gubernur DKI bahkan banyak media massa berpengaruh di negeri ini menyoroti langkah yang diambil pasangan Jokowi - Ahok dan membuat reportasi kinerja hari demi hari. Belum lagi media sosial seperti facebook, tweeter, blog dan media sosial lainnya juga mengusung topik Jokowi sebagai "hot news" setiap hari. Peranan media ini memberikan kontribusi utama kenaikan popularitas Jokowi dalam survey longitudinal yang dilakukan oleh Kompas. Boleh dikatakan Jokowi saat ini adalah seorang "media darling". Siapapun yang berseberangan dengan Jokowi dalam hal kebijakan bahkan menjadi "public enemy". Kita tentu ingat bagaimana Lurah Warakas Mulyadi yang menolak sistem lelang jabatan Lurah dan Camat, Ketua DPRD DKI yang mengkritik Jokowi soal MRT dan yang paling baru Haji Lulung dalam kasus pembenahan Tanah Abang. Media massa memang memberikan informasi berita secara berimbang, tetapi di media sosial jelas tampak keberpihakan terhadap kubu Jokowi. Kubu penentang Jokowi akan menuai hujatan mengalir bak air bah. Pertanyaan yang menggelitik saya adalah, apakah apresiasi ini memang layak, atau hanya karena ikut-ikutan terbawa eforia yang secara terus menerus diberitakan? Saya mencoba membuat tulisan sederhana ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Popularitas Jokowi jelas akan jeblog dalam jangka panjang jika hanya mengandalkan peranan media dan tidak ditopang oleh kinerja Jokowi sendiri selaku Gubernur DKI. Kerja sama Jokowi selaku Gubernur dengan gaya "njawani" (santun, bersih dan merakyat) dan Ahok selaku Wakil Gubernur dengan gaya "preman balaikota" memang suatu kombinasi yang pas untuk memimpin Jakarta. Dalam 9 bulan kepemimpinannya, terbukti pasangan Jokowi - Ahok berhasil menata waduk Pluit dan pasar Tanah Abang. Ini jelas suatu "mission impossible" yang berhasil diselesaikan oleh Jokowi - Ahok tanpa menimbulkan gejolak sosial yang berarti. Prestasi lain adalah berhasil ditandatanganinya pembangunan MRT yang sudah tertunda lebih dari 25 tahun dan melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur. Lelang jabatan Lurah dan Camat juga menjadi terobosan Jokowi untuk meningkatkan kinerja bawahannya. Di samping itu sampai saat ini pasangan Jokowi - Ahok diindikasikan bersih dari suap dan korup, serta konsisten dalam berbicara dan bertindak. Ini yang membuat citra Jokowi terangkat di mata masyarakat Indonesia. Dalam menyongsong tahun politik 2014, Jokowi saat ini dilihat sebagai alternatif terbaik di antara kandidat pemimpin yang ada. Yang menjadi pembanding adalah kinerja pemerintahan pusat saat ini yang terkesan lamban dan sulit keluar dari budaya korup. Pembanding lainnya adalah para calon Presiden yang saat ini digadang-gadang oleh beberapa partai politik. Dari sisi kualitas tidak terdapat calon lain yang cemerlang. Ibaratnya 4L (lu lagi lu lagi). Sementara Jokowi selain konsisten, dia menawarkan cara kerja yang berbeda. Usianya yang relatif masih muda, ditambah gaya blusukan dan komitmennya memberantas korupsi adalah beberapa faktor yang membuat Jokowi menjadi unique and valuable. Dalam teori manajemen, bila ingin mengungguli pesaingnya, maka sebuah perusahaan harus mampu menciptakan keunikan yang bermanfaat bagi pelanggannya. Maka harus diakui juga, keunikan Jokowi menempatkan dirinya berbeda dan unggul di antara kandidat lainnya. Harus diakui bahwa fenomena Jokowi ini juga tidak terlepas dari unsur herding. Yang perlu dicermati adalah jangan sampai herding ini menjadi "bubble" yang akan meletus di kemudian hari. Walaupun demikian eforia masyarakat terhadap Jokowi memang nyata. Ada konsistensi bertindak dan hasil kerja yang dirasakan. Maka media perlu tetap berimbang dalam menyuarakan kritik kepada Jokowi agar tidak "layu sebelum berkembang". Tentu saja harus kritik yang membangun dan rasional, bukan keripik udang di balik batu. Indonesia perlu pemimpin yang bersih, tegas dan berani serta memimpin dengan hati nurani. Dan semua modal itu ada pada diri seorang Jokowi. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Jumat, Agustus 23, 2013

Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana

22 Agustus 2013 Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan karier seseorang. Bahkan boleh dikatakan inilah masa-masa di mana seseorang menapaki karier tertinggi dalam kehidupannya. Hari ini rekan-rekan Polri alumni Akpol tahun 1988 yang tergabung dalam Batalyon Adhi Pradana merayakan puncak acara reuni perak pengabdian selama 25 tahun. Acaranya sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak semalam, yaitu diawali dengan makan malam bersama di hotel Patra Jasa Semarang. Kebetulan saya mendapatkan kehormatan untuk bisa menjadi anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana, maka saya hadir pada acara istimewa ini. Dari total anggota Batalyon Adhi Pradana sebanyak 220 orang, 150 orang di antaranya hadir pada acara reuni kali ini. Sungguh satu prestasi yang luar biasa. Di kalangan sipil saja sulit sekali mengumpulkan alumni satu angkatan sebanyak itu dalam suatu acara reuni. Bahkan buat kalangan Polri sendiri, ini juga suatu persentase kehadiran yang istimewa bila dibandingkan dengan rekan-rekan seniornya yang sudah pernah merayakan reuni perak di tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar anggota Batalyon Adhi Pradana, yaitu lebih dari 170 orang sudah menyandang pangkat Kombes, bahkan ada 3 orang di antaranya sudah menyandang satu bintang di pundaknya dan satu orang lagi sudah menduduki job bintang satu juga. Bagi seorang prajurit, pangkat Kombes (atau kolonel di TNI) sebenarnya adalah pencapaian pangkat tertinggi. Lambangnya saja 3 melati di pundak. Melati itu tumbuh dari bumi, maka pangkat Kombes memang harus diraih dari prestasi dan perjuangan dari bawah. Sedangkan bintang (baca: Jenderal) khan turunnya dari langit. Berarti sudah berada di luar kendali kita. Di sinilah makna LUCK (keberuntungan) berperan. Tentu yang saya maksud keberuntungan adalah suatu kombinasi dari kompetensi (di dalam kontrol kita) dan kesempatan yang muncul (di luar kendali kita). Jadi para "Melati di Tapal Batas, Menanti Bintang Jatuh" ini sebenarnya memang harus banyak berdoa dan bekerja sebaik mungkin agar "Semesta Mendukung". He... Dari pengamatan saya pribadi yang sudah bergaul cukup lama dengan rekan-rekan polisi, saya yakin dalam waktu dekat akan ada beberapa lagi rekan Batalyon Adhi Pradana yang akan ketiban bintang. Semoga mereka-mereka yang terbaiklah yang segera mendapatkannya, sehingga bisa lebih memberikan warna yang lebih baik bagi Polri secara keseluruhan. Keikut-sertaanku dalam acara reuni perak Batalyon Adhi Pradana ini sebenarnya berawal 14 tahun yang lalu, ketika aku mengambil studi lanjut di program pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian. Saat itu 12 dari 30 mahasiswa program KIK tersebut adalah anggota Batalyon Adhi Pradana. Semuanya rekan AP saat itu masih berpangkat Kapten. Kami sering bergurau dengan saling menyebut "kutu kupret" untuk melambangkan bahwa mereka memang masih kelas "kutu kupret" alias bukan siapa-siapa. Saya masih ingat ketika kami sama-sama merayakan kenaikan pangkat mereka menjadi Mayor di tahun 1999. Masih terbayang betapa bangganya mereka menyandang sebuah melati di pundaknya sebagai simbol dari Perwira Menengah. Bahkan sampai saat ini saya masih sering memanggil mereka dengan pangkat MAYOR. Dari situlah saya jadi sering mengikuti kegiatan-kegiatan Batalyon Adhi Pradana dan akhirnya secara resmi diakui sebagai anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana. Terima kasih rekan-rekan atas penghargaan yang diberikan kepada saya. Acara reuni pagi ini diawali dengan penyambutan resmi peserta reuni perak Batalyon Adhi Pradana oleh Gubernur Akpol di Lapangan Bhayangkara Akpol. Semua rekan-rekan mengenakan baju PDH Polri lengkap dengan baret Sabharanya. Saya sendiri sebagai anggota kehormatan mengenakan jas lengkap dengan baret Sabhara. Waktu difoto tampak keren juga ya kalau saya pakai baret. He... Sesudah penyambutan dilanjutkan dengan menyaksikan parade dan permainan drumband taruna Akpol tingkat dua. Wow, mereka benar-benar profesional dalam memainkan drum tersebut. Beberapa rekan cerita bahwa Batalyon Adhi Pradana adalah satu-satunya Batalyon yang tidak memiliki tim drumband akibat perubahan sistem di pendidikan Akpol di tahun 1988 dari 4 tahun pendidikan menjadi 3+1 tahun pendidikan dan pasis. Perubahan sistem itulah yang juga membuat adanya 2 Batalyon di tahun 1988, yaitu yang masuk tahun 1984 dan lulus 1988, batalyon AW, dan yang masuk tahun 1985 dan lulus juga tahun 1988, batalyon Adhi Pradana. Kedua batalyon ini dilantik bersama oleh Presiden Soeharto. Kembali ke soal pertunjukan drumband taruna-taruni, gerakan-gerakan mereka sangat gesit dan trengginas. Beberapa atriksi khayang sambil mukul drumb, bas yang diputar-putar sampai mayoret yang melempar-lempat stick komando diperagakan dengan sangat baik. Kalau ada pertandingan drumband, saya yakin tim Akpol dan Akmil akan menjadi yang terbaik. Di swasta sulit sekali menciptakan kedisiplinan dan punya waktu sebanyak itu untuk latihan. Acara dilanjutkan dengan seremoni serah terima Aula Adhi Pradana yang sudah direnovasi oleh rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Di samping kiri dan kanan Aula nan megah itu berdiri masing-masing 8 buah pohon palem yang melambangkan angka 88. Acara pelepasan burung juga mewarnai seremoni ini yang melambangkan anggota Batalyon Adhi Pradana yang sudah melanglang buana bumi nusantara dalam berkarya. Selanjutnya kami memasuki beberapa ruangan tempat rekan-rekan dulu kuliah. Semuanya duduk berbanjar mencoba menirukan gaya-gaya taruna mereka 28 tahun yang lalu. Lucu sekali karena beberapa kursi kuliah sudah ndak muat mereka duduki. Tetapi akibat dipaksa maka kursinya tetap menempel di bokong ketika mereka berdiri. Ha..... Acara selanjutnya adalah seremoni upacara di lapangan di mana masing-masing rekan dibagi menjadi 5 kompi tempat asal mereka dahulu. Acara diawali dengan laporan dari masing-masing kumandan kompi kepada mantan kumandan batalyon Adhi Pradana. Sang Kumendan Batalyon kelihatannya sudah purna tugas dengan pangkat terakhir Kolonel Polisi, sementara 2 dari 5 Kumendan kompi yang lapor adalah seorang Brigadir Jenderal. Karena ini hanya seremoni, maka laporannya lucu-lucu. Salah satu yang saya ingat adalah laporan dari kompi 2 dimana komendan kompi melaporkan, "Lapor, kompi dua jumlah 27 hadir 23, 2 nyuci piring dan 2 sakit, siap mengikuti upacara." Lalu diperagakan bagaimana seorang kumandan batalyon dulu menggampar salah satu anggota kompi satu, rekan Kombes Rio, sampai berputar seperti gasing. Celotehan-celotehan lucu dari mantan Kumendan Batalyon yang memanggil tarunanya dengan sebutan "Hai Monyet" juga lucu-lucu. Semua saat ini tertawa, tapi saya yakin "sang monyet" 28 tahun yang lalu pasti tergopoh-gopoh bahkan mungkin terkencing-kencing di"sapa" sang DanYon. Ha..... Upacara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Batalyon Adhi Pradana dan foto bersama. Sesaat sebelum bubar, kebetulan ada mayor taruna beneran (taruna Akpol tingkat 3) yang lagi upacara siang menjelang makan siang. Beberapa rekan iseng ngerjain sang taruna-taruni itu dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di tengah lapangan upacara yang panasnya audubilah. Tanpa berani membantah sepatahpun mereka berguling seperti bola. Beberapa yang sedang jalan disetop dan ditanya siapa nama bapaknya sambil ngomong "nah sekarang saatnya balas dendam". Yang ditanya hanya bungkam dan paling teriak "siap, siap dan siap". He... satu sisi pembentukan budaya disiplin dan kepatuhan organisasi yang tidak pernah saya alami dalam sepanjang karier saya. Sesudah selingan keisengan beberapa rekan, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama taruna-taruni tingkat tiga. Kebetulan saya satu meja dengan Kombes Eky Heri, Kombes Jan de Fretes, Kombes Ari (Mayor Lemu), 4 orang taruna dan seorang taruni. Format tempat duduknya memang diset demikian. Begitu sampai meja makan aku langsung nengguk minuman yang tersedia. Maklum haus sesudah panas-panasan di lapangan. Tapi aku lihat kiri dan kanan ternyata ndak ada yang nyentuh makanan atau minuman. Oooo ternyata aturannya adalah makan bersama dan selesai bersama. Aku cuman nyengir kuda. Kombes Jan de Fretes cerita bahwa ketika menjadi taruna junior dulu, acara makan adalah acara yang paling menyiksa, di mana dia dan rekan-rekan lainnya pasti dikerjain oleh para seniornya. Perintah menyantap kulit pisang dan kulit jeruk bahkan menjadi menu wajib kalau diperintah senior. Ndak ada kata menolak. Para taruna dan taruni yang makan bersama kami siang itu duduk dengan sikap sempurna. Tidak bergiming, tidak bersuara, tidak tersenyum sama sekali. Hanya berkata bila ditanya, itupun jawaban pendek-pendek khas militer. Sesudah beberapa sambutan, dan laporan yang diikuti tiupan terompet, baru acara makan dimulai. Yang menarik adalah cara para taruna dan taruni makan. Setelah mohon ijin dari senior, mereka mengambil menu makanan di meja satu persatu bergiliran secara tertib. Setelah menu terbagi adil dan habis, baru mereka minta ijin untuk makan. Makannya bersamaan dan tidak ada satupun yang mendahului. Jadi jatah makanan terbagi adil dan tidak ada yang mendapatkan lebih. Selesai makanpun berbarengan dengan aba-aba meletakkan sendok dan garpu. Lalu minta ijin lagi berhenti makan. Wow.... satu pengalaman yang belum pernah saya saksikan sepanjang hidup saya. Saya pikir siang ini saya makan dengan 5 orang robot tanpa ekspresi sama sekali. Tapi begitu kami meninggalkan meja untuk keluar dari ruang makan, saya amati mereka mulai bisa ngobrol dan bercanda ceria. Ternyata mereka bukan robot. He.... Sebelum naik ke bus untuk menuju ke tempat acara "Rembug Adhi Pradana" kami kebetulan melihat taruna-taruni Akpol tingkat satu yang sedang latihan. Mereka membawa ransel, tas cangklong, dan senjata panggul dan diminta berlarian mengelilingi lapangan. Lalu berjalan jongkok menanjak sejauh hampir 300 m. Beberapa diantaranya sampai ngesot-ngesot ndak kuat lagi jongkok dengan beban sebegitu berat. Tetapi mereka tetap tabah dan pantang menyerah. Yang terkapar pun bangkit lagi karena akibatnya bakalan lebih parah kalau menyerah. Sementara para senior dan pelatih berteriak-teriak di samping barisan. Mirip petani menggiring itik menuju sawah. Dengan seragam warna tanah dan topi baja, mereka ngengsot sampe elek. Begitulah kehidupan di dunia Akademi Kepolisian. Di sinilah dibina calon-calon perwira polisi di masa yang akan datang. Saya yakin, jaman dulu ketika Polri masih bagian dari ABRI maka tempaannya lebih berat lagi. Tapi tentu saja bukan cuman fisik yang dibentuk, tetapi juga mental dan intelektual. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan mengenai HAM yang memang sudah dimasukkan kedalam kurikulum Akpol. Dengan pola pembinaan, pelatihan dan pengajaran yang baru, diharapkan Para perwira Polri yang dihasilkan akan jauh lebih baik dan bermartabat. Acara malam hari ditutup dengan makan malam bersama di Akpol. Dalam acara itu diputar ulang perjalanan kilas balik rekan-rekan Adhi Pradana ketika mereka mulai masuk ke Akmil tahun 1985. Walaupun saya tidak ikut mengalami kejadian tersebut, tetapi tetap bisa ikut tertawa menyaksikan kisah-kisah lucu ketika rekan-rekan masih pada kurus dan elek. Tempaan fisik yang begitu hebat tergambarkan secara jelas dan gamblang dalam video kilas balik tersebut. Sebuah pengakuan dari rekan yunior lulusan 1989 dari Batalyon Dharana Lakstarya, mengatakan bahwa hanya dengan satu jari telunjuk yang diputar-putar, seorang tokoh keren mas Riper (Kombes Rio Permana) dan mas Argat (Kombes s Ario Gatut) bisa membuat seluruh anggota Batalyon Dharana Lakstarya berguling-guling dan berputar. Ha..... kelihatannya mas Riper dan mas Argat dalah maskot yang paling menakutkan bagi para junior saat itu. Yah itulah bagian dari kehidupan rekan-rekan sebagai ex taruna Akpol. Saya terkesan dengan sambutan Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar, mantan Kapolri dan Dubes Indonesia di Malaysia. Dengan lugas dan gamblang beliau menyampaikan bahwa semenjak keluar dari struktur Polri, mata beliau sebagai purnawirawan semakin tajam menyoroti kinerja Polri saat ini, telinganya semakin peka terhadap semua kritikan yang dulu hampir tidak terlihat dan terdengar. Beliau mengungkapkan contoh ketika mewawancarai masyarakat perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Utara. Betapa sekarang masyarakat merasakan perhatian pemerintah sudah semakin jauh dari harapan. Maka beliau berpesan bahwa reformasi ini belum selesai. Beliau menitipkan kepada para perwira Batalyon Adhi Pradana yang sebentar lagi akan menduduki pucuk-pucuk pimpinan di Polri, agar jangan sampai mengabaikan saudara-saudara kita di luar pusat kekuasaan di pulau Jawa. Beliau juga menitipkan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana mampu menjaga 2 pilar penyangga keutuhan NKRI, yaitu Polri dan TNI agar tetap solid. Suatu pesan moral yang sangat dalam arti dan maknanya. Sesudah dendang lagu terakhir dari Yuni Shara, acara puncak reuni perak Batalyon Adhi Pradana di Akpol Semarang ditutup. Rekan-rekan besok masih akan melanjutkan reuni gabungan Werving 1985 dengan rekan-rekan TNI di Magelang. Saya sendiri memilih untuk tidak mengikuti acara yang lintas angkatan, karena ndak enak dengan rekan-rekan TNI. Akhirnya malam ini kutulis pengalaman yang sangat indah dan mengesankan ini dengan satu harapan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana semakin sukses menapaki puncak karier sebagai anggota Polri yang rata-rata masa dinasnya tinggal 10-12 tahun lagi. Jangan sampai ada yang terpeleset di puncak karier rekan-rekan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi merah dan putihnya republik ini akan ditentukan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi citra Polri akan dipertaruhkan. Semoga semakin banyak bintang bersinar dari rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Semoga Polri menjadi semakin berwibawa dan dicintai di bawah pimpinan rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Salam Adhi Pradana. Loyal Everywhere. Dr. Harris Turino Anggota Kehormatan Batalyon Adhi Pradana

Minggu, Juni 14, 2009

Kisah Polisi dan Surat Tilang

Baru saja Anton, seorang eksekutif muda yang sukses memimpin perusahaan besar, memasuki ruangan kantornya ketika sekretarisnya memberitahukan bahwa dia menerima pesan dari Ibu Susy, istri Anton, agar sepulang kerja tidak lupa membelikan kado mobil-mobilan buat Jerry, anaknya yang hari ini genap berusia 6 tahun. Anton melirik jam tangan Rolex yang melingkar di tangannya dan perasaan bersalah menyeruak di hatinya. Dia benar-benar lupa bahwa hari ini si Jerry berulang tahun dan dia belum sempat membelikan kado apa-apa. Seharian dihabiskan dengan pertemuan-pertemuan dengan rekan bisnisnya di samping memberikan arahan kepada para managernya dalam mempersiapkan launching kondominium baru yang kabarnya termahal di Jakarta.

Segera dia bergegas menyambar tasnya dan langsung kabur dari kantornya yang terletak di bilangan segitiga emas. Pak Tisna, supir pribadinya hari ini absen karena istrinya baru melahirkan, maka terpaksa Anton mengendarai sendiri kendaraan BMWnya menuju ke mal. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih, berarti hanya tersisa sedikit waktu untuk menemukan hadiah yang cocok buat buah hatinya. Waktu mendekati perempatan dia sebenarnya sadar bahwa lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna kuning, tetapi di tengah ketergesaannya Anton malah menggeber kendaraannya.

Baru beberapa ratus meter selepas lampu merah dia dipepet oleh seorang polisi lalu lintas. “Brengsek”, pikir Anton. Pasti gara-gara nyerobot lampu merah tadi. Padahal Anton yakin sang “penegak hukum” tadi ngak kelihatan batang hidungnya. Pasti hanya cari gara-gara saja nich polisi satu ini. Anton terpaksa menepikan mobilnya dan sang polisi menyapa “Selamat Malam Pak. Tadi Bapak melanggar lampu lalu lintas. Mohon untuk ditunjukkan SIM dan STNK Bapak”. Anton gondok banget. Dia pikir bisa-bisa keburu mallnya tutup dan ngak bisa belikan hadiah buat si Jerry. Langsung Anton keluarkan selembar uang lima puluh ribuan dan diberikan kepada polisi tersebut. Sang polisi menampik dengan halus dan berkata bahwa “Bapak saya tilang karena melanggar lampu merah. Mohon masukkan lagi uang Bapak dan Bapak bisa bayarkan ke pengadilan. Mohon tunjukkan SIM dan STNK Bapak”.

Anton benar-benar terkejut dan tambah kheki. Ini polisi cari masalah saja. Ditengoknya polisi tersebut dan dia tambah terkejut karena ternyata sang polisi adalah Herman, temannya satu SMA yang dulu memang masuk sekolah polisi. Langsung Anton menyapa dan sang polisi juga terkejut karena ternyata yang akan ditilangnya ternyata adalah rekan satu kelasnya yang dulu cukup akrab, walaupun kini sudah tidak berhubungan lagi lebih dari 10 tahun. Secercah harapan muncul di benak Anton. “Pasti urusan akan beres, karena kita toh dulu berteman” pikir Anton.
“Man, ini aku, Anton, teman SMAmu dulu. Masa kamu ngak ingat sih ? Sorry Man, aku lagi buru-bur mau beli kado buat anakku yang hari ini berulang tahun ke enam. Nanti keburu mallnya tutup”.
Herman, sang polisi, menjawab dengan tegas tapi sopan, “Aku tahu Ton, tapi kamu melanggar lampu lalu lintas. Dalam rangka menegakkan hukum, kamu tetap harus saya tilang. Tolong tunjukkan SIM dan STNKmu Ton”.
Kali ini kesabaran Anton sudah habis. Yang ada dibayangannya hanyalah wajah Jerry yang tentu akan sangat kecewa karena bapaknya tidak membelikan hadiah.
“Dasar brengsek”, pikir Anton, “Semua polisi memang brengsek dan sama sekali ngak mengenal arti pertemanan.”
Dengan kasar dilemparkannya SIM dan STNK, sambil teriak “Kalau mau ditilang, tilang saja. Silahkan. Cepetan! Brengsek!”

Herman, sang polisi, mengambil surat-surat kendaraan tersebut, dan berjalan ke belakang mobil Anton, serta tampak menulis sesuatu. Setelah selesai diberikannya surat tersebut kepada Anton, sambil mengucapkan selamat malam. Anton yang lagi kesel, sama sekali tidak menengok, apalagi berterima kasih dan langsung menggeber mobilnya tanpa berkata apa-apa.

Anton langsung ke mall dan membelikan hadiah buat anaknya. Untung saat itu tokonya belum tutup. Dengan wajah gembira campur kesal dia pulang ke rumah dan disambut Jerry, sang anak kesayangan satu-satunya.

Waktu hendak mandi Anton teringat akan surat tilang yang diterimanya dari “polisi brengsek” temannya. Diambilnya surat itu dari balik saku jasnya dan ternyata itu bukan surat tilang. Bahkan SIM dan STNKnya komplet di kembalikan. Yang dia kira surat tilang adalah sepucuk surat dari Herman yang ditulis tangan.

Anton sahabatku,
Telah sekian lama aku berusaha menghilangkan rasa benciku kepada para pengemudi yang menyerobot lampu merah. Sampai kini aku belum berhasil. Hari ini tepat enam tahun yang lalu, aku bersama istriku dan anakku satu-satunya yang masih bayi sedang mengendarai sepeda motor. Tapi rupanya itu adalah akhir bagi kebahagiaan keluargaku. Seorang pengendara mobil menyerobot lampu merah dan langsung menghajar motorku. Aku sendiri hanya lecet, tetapi istriku luka cukup parah dan aku terpaksa kehilangan anakku satu-satunya. Sang penabrak berhasil ditangkap 2 hari kemudian, dan dia divonis hakim selama 3 bulan akibat kecelakaan tersebut. Kini dia telah bebas dan aku kehilangan mutiara hidupku selamanya.

Istriku sembuh setelah 2 bulan koma di rumah sakit. Bertahun-tahun kami berusaha untuk menghapus kepedihan itu dan mencoba untuk mempunyai anak lagi. Akhirnya istriku mengandung dan sayang Tuhan berkehendak lain. Istriku meninggal waktu usia kehamilannya mencapai 5 bulan karena kerusakan rahim akibat kecelakaan dulu.

Sejak kejadian kecelakaan itu aku sangat membenci pengendara yang menyerobot lampu merah. Aku tidak rela bila duka nestapa yang kualami ini akan menimpa pemakai lalu lintas yang lain. Cukup aku saja yang mengalaminya. Ketika kau menyerobot lampu merah tadi, yang ada dalam benakku adalah kecerobohan seseorang yang mungkin bisa menjadi mala petaka bagi orang lain.
Sudah beribu-ribu orang aku tilang, tetapi tetap saja setiap hari aku menyaksikan aksi penyerobotan lampu merah. Baru malam ini, pertama kalinya aku tidak menilang orang yang aku tangkap karena melanggar lampu merah. Aku harap, kau mau membantuku mengusir duka dalam hidupku dengan sedikit kontribusi mentaati rambu lalu lintas agar kejadian yang menimpaku tidak dialami oleh orang lain. Aku benci semua itu karena aku yakin setiap kecelakaan biasanya didahului dengan pelanggaran lalu lintas.

Anton sahabatku,
Sampaikan salamku buat anakmu yang berulang tahun.

Setelah membaca surat itu, air mata meleleh dari kedua mata Anton. Dia merasa sangat berdosa kepada Herman, sahabatnya yang malang. Kini dia mengerti mengapa Herman begitu membenci penyerobot lampu merah.