Senin, Juli 27, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 15 - Enroute Istanbul Jakarta


   

Ramadhan Holiday 2015 – Day 15 – Enroute Istanbul Jakarta

Kami mendarat di Istanbul jam 10 malam, berarti ada waktu 4 jam sebelum kami terbang lagi ke Jakarta jam 2 pagi. Tentu saja waktu ini tidak disia-siakan bagiku untuk “mengambil napas” di smoking area dan buang air di toilet. Jujur buat saya ini satu kenikmatan karena toilet di dekat Food Court bandara Attaturk Istanbul memiliki semprotan air buat bersih-bersih. Rasanya belum tega kalau hanya diusap-usap pakai kertas tisue. Ha… Dasar aku memang orang kampung, belum bisa cebok pakai tisue.

Makanan yang paling ngangeni di Istanbul adalah ice cream dan Turkish Delightnya. Turkish Ice Cream di lidah saya kok rasanya lezat sekali. Bentuknya molor seperti karet dan rasanya macam-macam. Namanya “dondurma” dan konon ice cream ini berasal dari daerah Maras, maka juga terkenal dengan nama “maras ice cream”. Walaupun ice cream Turki memang popular, tetapi data menunjukkan bahwa konsumsi ice cream per kapita di Turki masih tergolong rendah kalau dibandingkan dengan USA apalagi New Zealand, the heaven of ice cream. Di New Zealand orang mengkonsumsi 22 – 24 l ice cream per kapita per tahun dan di US 18,3 l sedangkan di Turki hanya 2,8 l. Saya ndak tahu data di Indonesia. Rasanya sih angkanya di bawah 1 l per kapita per tahun. Ice cream di Indonesia hanya popular di kalangan anak kecil kelas menengah dan beberapa orang dewasa tertentu saja. Bahkan saya masih ingat waktu masih kecil dilarang makan ice cream karena dipercaya bisa menyebabkan pilek dan batuk.

Turkish Delight adalah semacam permen gel kenyel-kenyel yang rasanya macam-macam. Bentuknya kubus kecil ukuran 1,5 cm dan ditaburi gula putih. Saya sih paling suka yang rasanya (isinya) double roasted pistachios. Ndak terlalu manis, tetapi rasanya unik. Konon “cemilan” ini berasal dari Arab dan sudah mulai diperkenalkan di Turki sejak tahun 1777. Saya beberapa kali mendapatkan oleh-oleh dari rekan yang jalan ke Turki. Dan di pesawat juga diberi “sample” satu potong. Pintar strateginya, biar penumpangnya belanja di bandara. Buat oleh-oleh ini memang yang paling praktis dan mengena. Bawanya pun ndak terlalu repot.

Di bandara Attaturk Turki kami juga sempat bertemu beberapa rombongan tour, di antaranya dari ATS juga. Langsung deh kita saling berkenalan dan bercerita seputar perjalanan tour yang mengasyikan. Kelihatannya banyak orang Indonesia yang mengakhiri tournya di hari ini. Banyak pula para pekerja Indonesia yang menumpang pesawat yang kami tumpangi. Mungkin separuh dari pesawat terisi orang Indonesia. Maklum ini khan perjalanan ke Jakarta, jadi banyak orang Indonesianya.

Perjalanan panjang dari Istanbul ke Jakarta yang memakan waktu 13 jam banyak saya isi dengan tidur. Badan terasa remuk redam setelah digelandang selama 15 hari angkut koper dari satu hotel ke hotel lain. Ingin segera merasakan nyamannya kasur sendiri dengan guling kesayangan sesudah menyiram badan dengan air hangat dan cebok dengan jet washer yang kencang. Sudah terbayang pula makan sayur asam dengan ikan asin dan tentu saja tempe serta tahu goreng aci yang menjadi menu wajib tiap hari di rumahku. Maklum aku khan berasal dari Slawi (Tegal) yang terkenal dengan tahunya.

Tepat pukul 6 sore kami mendarat di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Setelah bersalam-salaman kami berpisah. Ini adalah akhir dari sebuah perjalanan bersama selama 15 hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Kita sekarang kembali ke tanah air untuk kembali menimbun pundi-pundi agar bisa dipakai buat liburan berikutnya.

Kisah perjalanan ini saya buat dan posting, bukan untuk memamerkan bisa liburan ke luar negeri. Tetapi sekedar berbagi cerita kepada rekan dan sahabat. Siapa tahu ada rekan yang akan menempuh rute yang sama, sehingga bisa mempelajarinya lebih awal. Terima kasih buat seluruh rekan-rekan peserta tour buat kebersamaannya. Sebuah pengalaman yang indah untuk dikenang.
Selengkapnya...

Jumat, Juli 24, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 14 - Copenhagen


   

Ramadhan Holiday 2015 - Day 14 - Copenhagen

Ini adalah hari terakhir liburan yang cukup panjang ini. Tidak ada acara khusus dan hari ini hanya diisi dengan buang waktu sambil menunggu penerbangan menuju ke Istanbul dan lanjut ke Jakarta. Kami hanya menghabiskan waktu berjalan-jalan di tempat di mana kami kunjungi kemarin sambil makan siang.
Liburan selama 15 hari memang melelahkan dan rasanya agak terlalu panjang. Kami atau tepatnya saya sendiri mulai merasakan kejenuhan sejak hari ke 9 - 11. Kebetulan perjalanan di hari ke 9 dan 11 banyak didominasi oleh naik bus, mulai dari kota Hamar ke Voss lalu menuju Bergen dan lanjut ke Oslo. Kalau seandainya saya harus mengulangi lagi tour Ruscan ini, saya akan terbang dari Stockholm menuju ke Bergen, tinimbang menghabiskan waktu 2 hari penuh di perjalanan bis. Dan juga menginap di kawasan Gelio, instead of Bergen. Bisa banyak pengalaman menarik yang dialami di kawasan Voringfoss dan Taman Nasional Hardangervidda dekat kawasan Gelio. Dengan beberapa penyesuaian dan tentu saja sedikit tambahan biaya, perjalanan akan jauh lebuh efisien dan tidak melelahkan. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi ATS.

Secara umum Tour Ruscan ini menyenangkan dan worthed for the value of money. Di samping penerbangan jarak jauh menggunakan Turkish Airline, ada juga penerbangan pendek dari Moscow menuju ke Saint Petersburg. Ada 1 perjalanan dengan kereta api, yaitu dari Saint Petersburg menuju ke Helsinski. Ada 2 overnite cruise, yaitu Helsinki menuju Stockholm dan dari Oslo menuju ke Copenhagen. Sisanya perjalanan menggunakan bus. Makanan seluruhnya disediakan oleh ATS kecuali makan siang di hari terakhir. Ini buat sebagian orang sangat menguntungkan karena kalau makan sendiri maka budgetnya bisa sangat membengkak. Tetapi bagi sebagian lainnya yang kepingin lebih banyak mencicipi "nuansa lokal" menjadi kurang pas, terutama dalam soal alokasi waktu. Ya tetapi ini sih soal selera. Ndak mungkin bisa memuaskan seluruh pihak. Yang perlu diperbaiki adalah pilihan menunya terutama di Russia yang tiap hari kita makan dengan menu "stroganoff". Chinese food di beberapa lokasi juga perlu di tambah menu dagingnya, bukan melulu ijo royo-royo dengan secuil daging aja. Pilihan hotelnya sih sudah ok. Hanya di 2 hotel terakhir, yaitu di Oslo dan Copenhagen ruangan dan ranjangnya terlalu kecil untuk 2 orang. Di luar semua masukan itu, tour ini sangat menyenangkan. Beragam karakter peserta tour yang berbeda-beda bisa tidak timbul konflik yang signifikan. Ndak gampang menyatukan 26 orang yang berbeda dalam 1 kepentingan. Ini semua tentu tak lepas dari peran kepemimpinan Jerry, the Tour Leader, yang memang mumpuni. Jerry juga sangat helpful dalam soal tamu, terutama dalam menangani perpindahan dari satu hotel ke hotel lainnya. Saya berani mengatakan "he is one of the best Tour Leader yang pernah saya ikuti".

Ritual photo stop, yaitu mampir, foto dan jalan lagi adalah ritual rutin orang mengikuti perjalanan wisata pakai tour. Dalam tour jenis ini yang paling diutamakan adalah "orang"nya bisa berfoto ria di depan bangunan atau obyek yang dikunjungi, baik itu dijepret orang lain, maupun selfie dengan atau tanpa tongsis. Trus yang lebih "penting" lagi adalah upload foto di facebook, instagram atau media sosial lainnya. Soal sejarah tempat yang dikunjungi dianggap "tidak penting".  Dan saya amati fenomena ini bukan hanya fenomena turis Indonesia, tetapi turis dari seluruh dunia tanpa kecuali. Saya yakin jumlah upload foto di facebook atau instagram mengalami peningkatan traffic yang drastis selama bulan liburan ini. Jarang orang yang kepingin tahu latar belakang obyek yang dikunjungi, apalagi menuliskannya dalam sebuah kisah perjalanan secara runut dan tertib. Lebih banyak yang berprinsip "Foto mewakili seribu kata dan cerita." Bener juga sih. Cuman saya mencoba keluar dari pakem ini dan saya menikmati ketika membaca ulang kisah perjalanan wisata dari blog saya. Ini sekaligus sebagai latihan olah bahasa tulis popular, agar ndak melulu bergumul dengan bahasa tulis akademis atau malahan hanya bahasa lisan.

Soal photo stop, aku sampai di"bully rekan fotografer senior waktu beliau melihat fotoku lagi nenteng kamera pakai flash "kok bisa-bisanya motret landscape pakai flash yang nangkring di body kamera". Ha... suatu komentar yang jenius dari seorang pakar. Persoalannya adalah istri dan anak-anakku yang selalu siap "jadi model" di hampir semua spot. Jadi ya kudu selalu siap dengan flash untuk fill in biar ndak back lit. Kalau dilihat ama fotografer senior ya jadi lucu. Motret landscape kok pakai flash. He…

Belajar dari pengalaman soal kamera, menenteng kamera big body seperti 1 Dx di acara seperti ini rasanya kurang pas. Di satu sisi kabotan sekali, karena body kamera dan lensa bisa mencapai sekitar 4 kgs. Ndak praktis dan bikin badan pada pegel menenteng kamera segedhe bagong. Tetapi kalau dipikir lagi, sudah pergi sejauh ini, kenapa ndak mau diabadikan dengan kamera terbaik. Ya akhirnya komprominya adalah dengan memakai belt perut agar ndak terlalu capai dan cukup hanya membawa 1 lensa. Yang ndak perlu dibawa adalah segala macam filter beserta seluruh pendukungnya, wong emang ndak bakalan punya waktu buat ambil moment bagus dan setting tripod + filter segala. Kalau emang perginya khusus ama tukang potret baru ini merupakan perlengkapan wajib bawa.

Soal pakaian, saya juga belajar sesuatu bahwa untuk trip selama 15 hari, cukup dipenuhi 14 hari pakaian dalam, maksimal 7 buah kaos dan sandal yang nyaman. Kaos dan sweater dengan mudah kita bisa beli di tempat-tempat wisata yang kita kunjungi. He… dari seluruh peserta tour ternyata saya yang pakai sandal sendirian. Lainnya pakai sepatu keren-keren. Saya sengaja pakai sandal karena jauh lebih nyaman buat jalan-jalan, walaupun juga bawa sepatu, tapi ternyata ndak pernah dipakai.

Tepat jam 2 siang kami sudah memasuki bandara Copenhagen. Terpaksa menunggu karena check in counternya baru mulai buka jam 3 sore. Saya perhatikan dalam perjalanan menuju ke Istanbul hampir semua peserta terlelap dalam tidur. Mungkin kelelahan atau menyesali, kenapa perjalanan ini cepat berakhir. He…

 
Selengkapnya...

Kamis, Juli 23, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 13 - Copenhagen

Ramadhan Holiday 2015 - Day 13 - Copenhagen
Tepat pukul 9.45 pagi DFDS Cruise merapat di kota Copenhagen, ibukota Denmark. Denmark sendiri adalah kerajaan paling tua di rumpun Scandinavia. Jumlah penduduknya sekitar 5 juta orang, di mana 1.2 juta di antaranya tinggal di kota Copenhagen. Negara Denmark terdiri dari 400 buah pulau dan daratannya relatif flat. Tidak terdapat gunung-gunung tinggi seperti di Norwegia dan Swedia. Garis pantainya adalah yang terpanjang di Scandinavia. Maka tidak heran bila jajaran sailing boat juga banyak terparkir di sepanjang pantai menjelang kota Copenhagen.
 
Kalau mendengar kata Denmark, yang selalu terngiang di ingatan masa kecil saya adalah nama Morten Frost Hansen. Dia adalah pemain bulutangkis pertama yang mampu mendobrak tradisi kemenangan dan dominasi pemain-pemain Indonesia di kancah turnamen utama dunia. Pada masanya di era 1982 - 1987, Morten sering mengalahkan Lim Swie King, pemain bulutangkis Indonesia yang sangat terkenal dengan jumping smashnya, Misbun Sidek dari Malaysia dan Icuk Sugiarto yang terkenal dengan lob-lob panjangnya. Di masa-masa itu, saya memang menjadi seorang atlit serius di bulutangkis, jadi kenal semua nama yang mendominasi kancah dunia perbulutangkisan. Salah satunya adalah Morten Frost Hansen. Orangnya tinggi, kurus dengan wajah yang tanpa senyum. Waktu saya tanyakan ke local guidenya, ternyata memang bulu tangkis saat ini menjadi salah satu olah raga terpopuler di Denmark di samping sepak bola dan bola tangan. Kalau saat ini saya ndak tahu apakah Denmark masih memiliki jagoan hebat di tingkat dunia. Jalanan di Denmark relatif lebih besar dibandingkan di Norwegia. Ada beberapa jalan toll di seputaran kota Copenhagen.
 
Jalanannya relatif sangat lancar karena memang tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Di Denmark pajak kendaraan sangat tinggi, yaitu sebesar 183 persen. Harga bensin juga dikenakan pajak yang cukup tinggi, sebesar USD 2.0 per liter. Hal ini memicu orang untuk memilih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dalam kota. Maka hampir di semua ruas jalan di bangun bicycle lane yang khusus untuk pengemudi sepeda. Sama sekali tidak terlihat motor berkeliaran di Copenhagen. Aneh juga ya, di Jakarta bersepeda adalah ajang membentuk komunitas dan tidak jarang sarana pamer harga sepedanya yang mencapai puluhan juga, atau minimal sebagai sarana untuk berolah raga. Sementara di Denmark yang punya pendapatan perkapita 20 kali dari Indonesia menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Sebuah ironi yang menggelikan.
 
Bersepeda sebagai alat transportasi di Copenhagen emang paling nyaman. Jalanannya flat, tidak naik turun, ada fasilitas special lane, bisa dibopong naik kereta api tanpa ada tambahan biaya apapun, parkir mudah di dekat tempat kita beraktivitas, dan tentu saja jadi sehat. Saya jarang melihat orang "gendhut" alias obesitas di Copenhagen, berbeda dengan di Amerika yang jumlahnya jauh lebih banyak. Menurut local guide kami, yang namanya Nuri dan berasal dari kota Lima di Peru, bersepeda di Copenhagen kudu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, seperti lampu lalu lintas, tata cara berbelok ke kiri dan ke kanan, harus memiliki lampu putih di depan dan merah di belakang, dan masih banyak lagi. Kalau rambunya dilanggar, dendanya sangat mahal. Jadi di Copenhagen kalau sepeda mau belok kanan/kiri harus ngasih sign dengan mengangkat dan melambaikan tangan kanan/kiri. Tidak melakukan ini dendanya sebesar EUR 100,- atau setara dengan Rp. 1.5 juta. Wow.... bisa buat beli sepeda lagi donk.
 
Data Indeks Kebahagiaan penduduk suatu kota/negara menempatkan Copenhagen dan Denmark di deretan posisi tertinggi di dunia. Kota ini memang relatif aman, makmur dan nyaman. Pendidikan di Denmark gratis, bahkan sampai ke level PhD. Mahasiswa bahkan diberi "santunan" pendidikan sebesar EUR 700 per minggu apabila bersedia bekerja di lingkungan kampus selama 10 jam dalam seminggu. Biaya kesehatan juga gratis. Jam kerja maksimal 37 jam seminggu dan setiap karyawan berhak atas cuti hamil selama 12 bulan untuk ibu melahirkan dan 3 bulan untuk bapaknya. Kalau ini diterapkan di Indonesia, bisa-bisa ada karyawan mendapatkan cuti panjang 6 tahun dan dibayar oleh perusahaan, karena setiap tahun beranak 1. He.... di Denmark anak sesudah memasuki usia 20 tahu lebih memilih untuk tinggal terpisah dari orang tuanya. Si anak bisa mandiri dengan mengandalkan subsidi pemerintah. Ini mengingatkan saya pada satu artikel tentang "bangkrutnya" sebagian besar sarjana di Amerika akibat beratnya cicilan hutang yang harus ditanggung mereka untuk membayar pendidikan, mencicil rumah, cicilan mobil, dan masih seabreg kewajiban lainnya. Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, rasanya Denmark tidak terlalu kesulitan menjalankan peran sebagai welfare country.
 
Konsekuensi dari semua kenikmatan itu adalah tingkat pajak yang tinggi. Rerata tingkat pajak di Denmark adalah 48 persen, masih di bawah Norwegia yang reratanya 55 persen, sedangkan Swedia 40 persen. Untuk higher income family bahkan tingkat pajaknya mencapai 63 persen. Dan tingkat kepatuhan membayar pajaknya pun sangat tinggi. Ini semua yang mendanai semua "kenikmatan" sebagai warga negara. Saya jadi ingat di pelajaran macro economy yang mengatakan bahwa tingkat pajak yang sangat tinggi akan menurunkan produktivitas karena orang menjadi malas untuk berkarya lebih selama hasil kerjanya sudah cukup untuk hidup nyaman. Bahkan orang cenderung untuk membatasi jam kerja menjadi lebih pendek lagi, menurunkan usia pensiun. Tadinya saya sulit memahami statement ini. Dengan tingkat pajak yang seperti ini emang bisa dimaklumi. Ngapain kerja lebih keras lagi dimana sebagian besar hasilnya akan dinikmati oleh pemerintah. Selama sudah cukup hidup enak ya sudah leyeh-leyeh aja menikmati hidup dan waktu untuk keluarga. Orang juga lebih senang untuk menikmati liburan di luar negeri yang relatif lebih murah dibandingkan hidup di Denmark. Banyak orang Denmark yang memiliki rumah peristirahatan musim panas di Italia dan Spanyol, karena kedua tempat tersebut jauh lebih murah dan juga lebih hangat. Destinasi wisata di Asia adalah Thailand dan Cambodia. Miris juga mendengarnya, padahal Indonesia memiliki obyek wisata yang jauh lebih eksotik dibandingkan dengan Thailand dan Cambodia. Dan dari Denmark, jarak ke Indonesia ya tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan ke Thailand atau Cambodia.
 
Denmark juga terkenal sebagai kota yang “green”. Energi bersih dari air, angin dan sinar matahari saat ini berkontribusi sebesar 20% dari total energi nasional dan dalam waktu 10 tahun ke depan akan ditingkatkan menjadi 30%. Angka ini memang masih jauh di bawah Norwegia yang mendekati 98% dipasok oleh hydro power. Di Norwegia khan memang kondisi alamnya yang bergunung-gunung memungkinkan mendapatkan energi air dari air terjun dan melelehnya es. Taman juga ditata dan terus di tambah. Targetnya di tahun 2025 setiap 500 m harus terdapat lahan terbuka untuk taman kota. Ini mirip dengan jumlah mall yang terus bertambah di Indonesia. He…
 
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Istana Kronborg yang terletak 46 km dari pusat kota Copenhagen. Istana yang juga benteng pertahanan ini juga dikenal dengan nama Hamlet Castle. Di dinding luar benteng berjajar meriam yang mengarah ke jalur laut yang memisahkan Denmark dengan Swedia selebar hanya 4 km. Jalur laut inilah yang dari sejak dulu menjadi sumber konflik kedua kerajaan tersebut. Keduanya memperebutkan akses strategis dari jalur laut tersebut. Dulu setiap kapal yang lewat diwajibkan membayar upeti kepada kerajaan Denmark. Kalau menolak maka akan ditembak dengan meriam. Benteng sekaligus istana ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu museum tempat tinggal keluarga kerajaan Denmark tempo dulu, penjara dan kapel. Di Museum sekitar 70 persen barangnya adalah asli, yaitu hasil pengumpulan ulang barang-barang milik kerajaan yang dijarah habis dalam penyerbuan pasukan Swedia di tahun 1600an. Bagian kedua adalah penjara bawah tanah. Memang cukup menyeramkan, tetapi menurut saya kok masih belum seberapa dibandingkan dengan beberapa penjara terkenal dunia seperti di Auswitz di Polandia, Arkansas di California, bahkan Lawang Sewu di Semarang. Di Lawang Sewu ada sel isolasi "duduk" di mana tahanan hanya bisa duduk saja di sel dan tidak bisa berdiri karena ketinggian sel emang hanya memungkinkan orang untuk duduk. Bagian ketiga dari istana dan benteng adalah sebuah kapel Lutheran tempat di mana biasa para keluarga istana beribadat.
 
Dari istana Kronborg, kami menyusuri garis pantai melihat patung Little Mermaid. Bentuknya seperti seorang perempuan duduk dan kakinya berupa sirip. Patung setinggi 1.25 m ini adalah sumbangan dari Carl Jacobsen, anak pendiri pabrik bir terbesar di dunia Carlberg yang didirikan pada tahun 1913. Patung ini terinspirasi oleh cerita dongeng Hans Christian Andersen tentang seorang gadis mermaid (puteri duyung) yang ingin mengakhiri hidupnya di laut dan menjadi seorang manusia utuh yang menikah dengan seorang pangeran. Cerita dongeng itu ditulis dan dipublikasikan tahun 1837 dan masih menjadi sebuah dongeng yang "hits" sampai saat ini. Dongeng lain yang sangat dikenal adalah "Ugly Duckling", yang sebenarnya menceritakan kisah hidup Hans sendiri sebagai seorang penulis. Dia yang datang dari keluarga miskin di pedesaan dan mencoba mengadu nasib ke Copenhagen sebagai seorang penari. Tetapi karena kesan "kampungan" dan jelek, maka dia ditolak di beberapa tempat di mana dia melamar. Lah dalam keputus-asaan itu dia menulis kisah-kisah dongeng dan akhirnya menjadi salah seorang yang sangat terkenal di Denmark dan Scandinavia.
 
Oya di samping Carlberg, ada beberapa nama perusahaan multi nasional yang berasal dari Denmark, di antaranya Lego, perusahaan farmasi Novo Nordisk, perusahaan pelayaran terbesar di dunia Maersk Line, serta Royal Copenhagen Ceramics. Perusahaan-perusahaan inilah yang menopang pertumbuhan ekonomi Denmark, di samping Denmark juga menghasilkan oil and gas yang cukup besar di kawasan Scandinavia dan juga eksportir terbesar untuk daging babi di kawasan Scandinavia. Melihat gonjang ganjing Uni Eropa dalam kasus Yunani, Denmark mensyukuri bahwa walaupun negaranya menjadi bagian dari Uni Eropa tetapi mereka memutuskan untuk tetap menggunakan mata uang sendiri, yaitu Danish Krona. Mata uangnya relatif stabil pada kurs EUR 1 = DKr 7.30.
 
Berbeda dengan negara-negara di kawasan Scandinavia lainnya, Denmark menerapkan kebijakan free alkohol untuk dijual dan diminum di manapun juga. Kalau di Swedia dan Nowegia hanya boleh dijual di toko-toko tertentu dan di minum di dalam ruangan. Orang Denmark juga cenderung kelihatan "angkuh" di awal karena memang relatif "tertutup". Budaya hugging juga ndak umum di Denmark. Orang-orang juga berteman akrab hanya dengan rekan-rekan satu almamater di SMA atau di Universitas. Jarang sekali pertemanan akrab terjadi dalam lingkungan kerjaan. Satu hal lagi yang menarik adalah kebanggaan orang Denmark terhadap benderanya. Di banyak rumah-rumah peristirahatan saya melihat bendera Denmark dipasang. Menurut local guide kami, di acara-acara ulang tahun atau acara-acara personal lainnya juga lambang bendera mendominasi hiasan. Kebetulan desain bendera seluruh negara Scandinavia sama, hanya dibedakan warnanya saja. Mengingat kerajaan Denmark adalah yang tertua, maka diyakini desain bendera negara-negara lain di kawasan Scandinavia meniru bendera Denmark dan hanya di bedakan warnanya saja.
 
Selesai makan siang di sebuah restaurant yang tua sekali dengan menu khas Denmark berupa beberapa varian seafood dan sayuran yang disajikan dalam 1 piring besar, kami menikmati acara bebas di pusat kota Copenhagen. Bagi cewek-cewek acara bebas itu identik dengan "shopping". Padahal secara logika, harga barang-barang yang dijajakan baik itu branded maupun local brand, jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Bagi saya jelas, bahwa Scandinavia is not the place for shopping.
 
Menjelang masuk ke bis untuk menuju hotel kami dikejutkan oleh tertangkapnya seorang "penjahat" yang sudah dikejar-kejar polisi dari tempat lain. Kebetulan penjahatnya mengendarai sepeda motor ke arah rombongan kami dan terguling tepat di depan tempat berkumpulnya rombongan. Lalu berlari menghindari polisi yang mengejarnya. He... ternyata ada juga ya penjahat di kota sedamai Copenhagen. Yang saya cermati dari kejadian ini adalah tingkat keperdulian masyarakat tidak terlalu tinggi melihat kejadian ini. Kalau di Jakarta sudah pasti penjahatnya bakalan bonyok dihajar massa dan bahkan bisa-bisa di "sate" hidup-hidup. Kejadian "maling yang tertangkap" menyebabkan kami saling bercerita menurut versinya masing-masing. Minimal bisa buat "tombo kantuk" di sore hari. Sepanjang makan malam topik maling masih menjadi trending topic yang hangat. He.... malam ini kami bermalam di Scandic Hotel Copenhagen.
Selengkapnya...

Ramadhan Holiday 2015 - Day 12 - Oslo

Ramadhan Holiday 2015 - Day 12 - Oslo
 
Pagi ini perjalanan wisata kami dilanjutkan dengan city tour di kota Oslo. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah City Hall. Bentuknya sangat mirip dengan Stockholm City Hall, yaitu ada tangga memanjang di salah satu sisinya. Di tempat inilah pemenang hadiah Nobel perdamaian diumumkan pada tanggal 10 Desember. Seperti sudah dijelaskan ketika mengunjungi Stockholm, khusus untuk Nobel Perdamaian memang tetap diumumkan di Oslo karena dulunya Norwegia adalah bekas jajahan Swedia. Tidak ada hal istimewa lain di Oslo City Hall, yang sampai saat ini masih dipakai sebagai pusat pemerintahan kota Oslo.
 
Dari situ kami mengunjungi Opera House, yang terletak di sebelah stasiun kereta api utama kota Oslo. Dari kejauhan bentuknya menyerupai kapal. Bangunan "miring" ini relatif masih sangat baru, dan selesai dibangun tahun 2007. Di theater utamanya, Opera House ini mampu menampung 1364 penonton, di samping ada 2 theater kecil yang bisa menampung 200 dan 400 penonton. Kami tidak sempat masuk dan hanya berfoto ria di depan bangunan tersebut. Buat orang Indonesia gedung opera adalah sesuatu yang terasa "asing". Dalam benak hati, sayapun bertanya, apaan tuh, karena ini bukan hal yang jamak di negeri kita. Yang saya tahu di Jakarta kalau nonton pertunjukkan biasanya di Gedung Dewan Kesenian Jakarta atau di Taman Ismail Marzuki. Kita rasanya ndak punya tradisi "theater" yang kuat deh, padahal kita punya sekolah tinggi seni yang cukup beken, yaitu Institut Kesenian Jakarta. Dan aku sendiri sudah jadi pengajar tetap di Pascasarjana IKJ untuk mata kuliah Entrepreneurship, atau istilah kerennya "Business for Artists", sejak tahun 2010. Keren khan? Tapi tentu saja tidak semua mahasiswanya adalah artis-artis sinetron yang bahenol. He....
 
Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah Vigeland Park, atau nama sebenarnya adalah Frogner Park. Taman ini terdiri dari 3 lantai. Total di dalam taman terdapat 212 patung yang terbuat dari granit yang kesemuanya patung telanjang yang dibuat oleh Vigeland Gustav dan selesai tahun 1944. Keseluruhan patung itu menggambarkan kehidupan manusia mulai dari lahir sampai meninggal. Yang paling terkenal adalah patung Angry Boy, yaitu patung seorang anak usia belasan tahu yang telanjang dan wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan. Patung lain yang menarik adalah patung sepasang laki-laki yang bisa dipersepsikan sebagai pasangan "gay". Ini menarik karena di kota Oslo orang dijamin tidak akan mengalami diskriminasi hanya karena soal gender ataupun orientasi seksualnya. Jadi benar-benar setiap orang punya hak yang sama. Bahkan di brosur yang saya temukan semalam di Hotel Scandic Oslo, ada iklan bar dan nite club yang positioningnya emang buat LGBT. Yah, itulah Norwegia, yang memang terkenal sangat anti diskriminasi.
 
Memasuki "lantai kedua" terdapat air mancur (atau mungkin lebih tepatnya air muncrat kali ya). Yang menjadi point of interest adalah Monolith yang terletak di "lantai ketiga". Monolith adalah semacam monumen dengan ketinggian 14,12 m yang tersusun dari 121 patung tersusun menjadi satu membentuk sebuah monumen. Kebetulan cuacanya pagi ini sangat bagus, sehingga bagus sekali buat berfoto ria di taman tersebut.
 
Sebelum makan siang kami mengunjungi Viking Ship Museum yang terletak di kawasan Bygdoy Oslo. Museum ini adalah bagian dari Museum of Cultural Art dari Universitas Oslo, sebuah Universitas terbesar di Norwegia. Bangunan museumnya sendiri relatif sederhana dan koleksi 3 buah perahu dan artefak lainnya juga tidak terlalu istimewa. Yang paling menarik tentu saja perahu perang Viking yang konon sangat terkenal. Bagi kita orang Indonesia, terutama yang tidak tertarik pada sejarah tentu tidak mengenal siapa yang dimaksud dengan Viking. Ya maklum, waktu jaman Viking kita semua belum lahir. Ha...
 
Bagi bangsa Scandinavia, khususnya bagi bangsa Norwegia, Viking adalah sebuah catatan sejarah yang tidak bisa diabaikan. Viking adalah sekelompok orang Scandinavia yang menjelajah sampai ke kawasan Inggris, Russia, German, Eropa Timur, Afrika Utara, Constantinopel, Mediterania, Asia Tengah, bahkan sampai ke Amerika Utara pada abad ke 8 sampai abad ke 11. Bahkan beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa bangsa Viking pernah menakhlukan Bagdad (Irak) pada abad ke 10, yang saat itu menjadi pusat penyebaran agama Islam. Bangsa Viking terkenal karena kekejamannya dalam menguasai daerah yang sudah ditahlukannya. Prajurit Viking yang biasa digambarkan sebagai seorang prajurit yang tinggi besar, wajah anggun dan bertopi baja, dengan pedang di tangan kanan menjelajah melalui laut Baltic dan laut Norwegia menggunakan perahu karena memang sangat terkenal keahliannya dalam bidang pelayaran.
 
Sampai saat ini masih menjadi perdebatan antar sejarawan di Norwegia, apa sebenarnya motivasi dari Viking. Satu teori mengatakan bahwa Viking muncul sebagai bentuk perlawanan atas kekuasaan Charles the Great yang dinobatkan menjadi the "Emperor of Europe" oleh Paus Leo III dan bermaksud mengkristenkan seluruh wilayah Eropa, termasuk Scandinavia. Teori lain mengatakan bahwa Viking muncul semata-mata karena keinginan untuk berdagang dan memang bangsa Viking ini sangat ahli dalam tehnologi pelayaran pada masanya. Apalagi saat itu kerajaan Inggris sedang lemah akibat pertempuran internal antar anggota kerajaan dan ekspansi agama Islam ke Eropa menyebabkan menurunnya volume perdagangan di Eropa. Bangsa Viking memiliki kejayaan pada awal abad 8 sampai abad 11. Pada abad ke 11 sejak semakin merasuknya kekristenan di kalangan istana raja-raja di Scandinavia terutama di Denmark dan Nowegia, Viking semakin terdesak dan melemah. Salah satu benturan utama antara Viking dengan kekristenan adalah soal perbudakan. Viking mengandalkan konsep perbudakan dalam melakukan penahlukan wilayah dan itu ditentang oleh ajaran kekristenan yang saat itu dianggap sebagai satu-satunya kebenaran di kawasan Eropa. Di sisi yang lain semakin menguatnya agama Islam, terutama sejak kemenangan kekaisaran Islam di kawasan Spanyol Selatan, semakin melemahkan tentara Viking. Akhirnya pada akhir abad 11 Kerajaan Viking runtuh. Peninggalan-peninggalan historisnya dipamerkan di Viking Ship Museum yang kami kunjungi hari ini. Sebuah catatan sejarah yang menarik bagi bangsa Norwegia.
 
Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Holmenkollbaken Ski Jump yang terletak di kawasan Holmenkollen Oslo. Dari sini kita bisa melihat kota Oslo dari ketinggian. Ini adalah salah satu arena ski jump yang paling tua. Holmenkollen sudah menyelenggarakan Holmenkollen Ski Jump Festival sejak tahun 1892. Ini pernah juga digunakan sebagai arena ski jump di Olimpiade Musim Dingin tahun 1952 dan beberapa kali digunakan di ajang pertandingan ski jump tingkat dunia. Ketinggian Holmenkollen saat ini adalah 142.5 m, setelah mengalami renovasi selama 19 kali, termasuk renovasi total di tahun 2010. Karena ini musim panas, maka ndak ada aktivitas apa-apa di sana, kecuali flying fox menyusuri di atas arena luncuran ski. Seandainya punya waktupun aku ndak berani meluncur di ketinggian seperti itu. Sadar diri kalau aku dah tua dan ndak punya keberanian seperti dulu lagi. Ya jadinya kami hanya mampir berfoto sebentar di tempat itu.
 
Sore harinya kami langsung check in di DFDS Cruise menuju ke kota Copenhagen. Ini adalah overnite cruise kedua setelah sebelumnya kami naik kapal cruise juga dari Helsinki menuju ke Stockholm. Asyik juga sih perjalanan begini. Bisa ngirit waktu enrouting dan bagi tour operator juga bisa ngirit hotel. Bagi kita juga bisa mendapatkan pengalaman "tidur goyang-goyang" diterpa ombak di tengah lautan. Cuman kali ini emang goyangannya jauh lebih terasa dibandingkan rute sebelumnya. Istriku sampai terkapar di dalam kamar sementara aku kebingungan mencari anak-anakku yang entah "hilang" (baca: bermain) ke mana bareng ama peserta tour lain. Kebetulan jaringan wifi hanya ada di seputaran deck 7 aja, jadi tanpa alat komunikasi ya nyarinya mabok juga. Untung akhirnya ketemu. He....
Selengkapnya...

Selasa, Juli 21, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 11 - Enroute Bergen Oslo

Ramadhan Holiday 2015 - Day 11 - Enroute Bergen Oslo
 
Setelah beristirahat semalam di Quality Edvard Grieg Hotel di Burgen, pagi ini kami melanjutkan lagi perjalanan panjang menuju ke ibukota Norwegia, Oslo. Data dari google map menujukan jarak Bergen ke Oslo 465 km dengan estimasi waktu tempuh 6 jam dan 44 menit tanpa berhenti. Kalau berikut makan siang dan berhenti wajib untuk kencing, ya total bisa mencapai 8 - 9 jam. Buat orang Indonesia di daerah dingin, pasti lebih sering membutuhkan toilet karena kademen.
 
Perjalanan ini seperti membelah Norwegia dari sisi barat ke sisi timur. Sudah bisa dibayangkan, bokong akan gepak (gepeng) menahan berat badan duduk seharian di dalam bus. Menurut informasi Andre, pengemudi kami asal Estonia yang sudah sejak dari Stockholm membawa kami, di Norwegia tidak ada jalan tol yang menghubungkan kota Oslo ke kota Bergen. Ini agak aneh karena keduanya adalah kota terbesar pertama dan kedua. Untuk negeri sekaya Norwegia , sebenarnya pembangunan jalan tol bukan hal yang sulit. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apa ya sebabnya.
 
Aku mencoba menganalisa sendiri. Negara ini penduduknya memang sangat sedikit dibandingkan luas tanah yang ada. Jumlah penduduknya hanya 5 juta lebih dengan luas daratan 385 ribu km persegi. Jadi luasannya sekitar seperempat dari Indonesia, tetapi jumlah penduduknya seperlima puluh dari Indonesia. Dengan kondisi seperti ini, mungkin memang tidak dibutuhkan banyak jalan tol. Apalagi memang industri yang dominan adalah industri hasil laut yang juga tidak membutuhkan infrastruktur jalan darat seperti bila industrinya adalah industri manufaktur. Pemandangan alamnya juga sangat indah sehingga jalanan non tol melingkar-lingkar gunung, lewat tunnel dan mengitari danau menjadi suatu keasyikan tersendiri. Mungkin akan terlalu mahal membangun jalanan lurus bebas hambatan mengingat topografi tanahnya, kondisi geografis dan demografisnya, apalagi tidak ada urgensi untuk industri dominannya. Entahlah sejauh mana analisa saya itu benar. Kelihatannya masuk akal, tetapi tentu saja kudu dikonfirmasi dengan data yang lebih akurat dan dikonsultasikan dengan pakar yang lebih mumpuni.
 
Pemberhentian pertama kami adalah sesaat setelah melewati jembatan gantung Hardangervidda, sebuah jembatan gantung terpanjang di Norwegia. Panjangnya 1.5 km dan di salah satu sisinya langsung masuk ke dalam tunnel. Jembatan gantung ini dibangun pada tahun 2009 dan baru beroperasi tahun 2013. Data temperatur di bus menunjukkan suhu sekitar 12 derajad celcius, tetapi angin yang cukup kencang membuat saya merasa suhu seperti sekitar 5 derajad. Sambil antri di depan toilet, aku amati ternyata toiletnya yang pakai konstruksi baja ringan dan aluminium menggunakan atap dari batu belah, yang biasanya banyak digunakan sebagai lantai di Indonesia. Dari hasil ngobrol dengan So Yohanes Jimmy, saya mendapatkan informasi bahwa atap batu yang relatif berat ini juga banyak dipakai di rumah-rumah di kota Kobe Jepang. Tujuannya adalah untuk menahan rumah dari tiupan angin yang cukup kencang. Tanpa disangka ini menyebabkan jumlah korban yang meninggal akibat gempa Kobe jauh lebih banyak. Sebagian besar korban gempa adalah akibat tertimpa reruntuhan atap rumah, yang rata-rata beratnya mencapai 2 ton.
 
Pemberhentian kedua sebelum makan siang adalah di area semacam padang savana yang sebagian di antaranya tertutup salju dengan ketebalan 50 - 150 cm. Nama daerahnya adalah Voringfoss yang terletak di kawasan Taman Nasional Hardangervidda pada ketinggian 1240 m ASL. Di Taman Nasional ini adalah habitat bagi binatang-binatang artic seperti reindeer. Data menunjukkan bahwa jumlah reindeer di Taman Nasional ini mengalami penurunan drastis dari 15.000 ekor di tahun 1996, tinggal menjadi 8.000 ekor di tahun 2010 akibat pemburuan oleh manusia. Wah aku jadi menyesal makan daging reindeer di Helsinki minggu lalu. Di sini sebagian sungai sudah mulai membeku menjadi tumpukan salju yang mengapung. Angin bertiup sangat kencang, semakin menambah dingin sampai menusuk tulang, sampai-sampai menekan rana kamera saja susah sekali karena tangan bergetar menggigil. Padahal ini adalah di tengah musim panas. Lah kalau musim dingin bisa seperti apa ya rasanya. Andre, sang pengemudi tertawa terbahak melihat saya menggigil kedinginan dan bersembunyi di balik bus. Dia mengatakan di negaranya, Estonia, kalau puncak musim dingin suhunya bisa mencapai minus 30 derajad celcius. Wah "barangku" bisa mengkeret deh.
 
Kami makan siang di Vestlia Hotel, yang terletak 2 km dari stasiun kereta Geilo. Geilo adalah sebuah desa kecil tempat wisata ski di musim dingin. Letaknya sekitar 220 km dari Oslo atau Bergen. Vestlia Hotel adalah tipical ski resort yang didesain menggunakan konsep arsitektur Norwegia yang terbuat dari kayu. Bangunnya sangat antik dengan atap yang terbuat dari kayu. Ada lapangan golf 9 holes tepat di depan resort. Kalau maen golf di sini bayar green feenya NOK 600 untuk 2 x 9 holes. Saya lihat greennya kurang terawat, jauh dibandingkan dengan lapangan golf kelas atas di Indonesia. Di samping lapangan golf ada fasilitas kolam renang air panas dengan luncuran berkelak-kelok seperti di Water Boom Pantai Indah Kapuk. Ada juga sarana mainan anak-anak semacam children ground yang cukup komplit. Seharusnya tidur di Geilo sini jauh lebih asyik, tinimbang di Bergen.
 
Perjalanan yang panjang dan melelahkan dari Bergen ke Oslo akhirnya berakhir. Tepat jam 7 malam kami memasuki kota Oslo, ibukota Norwegia. Total perjalanan hari ini memakan waktu 10 jam, termasuk 2 kali stop dan makan siang. Suhu udara kota Oslo lebih bersahabat, sekitar 19 derajad celcius, walaupun matahari sama sekali tidak nampak karena tertutup awan mendung. Di samping kanan jalanan memasuki kota Oslo sebelum pelabuhan peti kemas, saya melihat ratusan kapal kecil dan sedang (sailing boat) terparkir dengan rapi di pelabuhan. Panjang parkirannya bisa mencapai hampir 3 km. Pemandangan mirip seperti ini pernah saya lihat di kota Auckland, Selandia Baru, di mana di Auckland adalah kota dengan jumlah yatch per kapita terbesar di dunia. Tebakanku di seputaran Oslo ada obyek wisata air atau pulau yang sering dikunjungi warga kota Oslo untuk menikmati akhir pekan.
 
Kota Oslo sendiri didirikan tahun 1048 dan merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Norwegia. Jumlah penduduknya 650 ribu jiwa, atau kira-kira setara dengan 2 kecamatan di Ibukota Jakarta. Kota Oslo merupakan kota termahal kedua di dunia setelah Tokyo, serta merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan Norwegia. Berbeda dengan di Moscow dan Saint Petersburg di mana di kedua kota tersebut 90 persen penduduknya tinggal di apartemen, di Oslo saya melihat banyak landed house di seputaran kota.
 
Kami makan malam di sebuah Chinese restaurant di dekat National Concert Hall Oslo. Makanannya lumayan enak, hanya variasinya kurang banyak. Waktu saya melirik daftar menunya, memang harganya lumayan menggigit. Rata-rata per porsi lauk seharga NOK 180 - 250 atau setara dengan Rp. 328.000 - 462.000,-. Harga ini jelas mahal untuk porsinya yang relatif kecil. Maklum ini khan kota yang termahal kedua di dunia.
 
Malam ini kami check in di Scandic Hotel Oslo. Hotelnya terletak di daerah kota, tetapi ini adalah hotel terjelek dari sepanjang perjalanan tour kami. Mungkin karena terbatasnya budget untuk hotel di salah satu kota termahal di dunia. Ranjangnya sama sekali tidak nyaman. Untuk kamar double hanya terdiri dari spring bed berdempet yang diberi lapisan kasur setebal 10 cm untuk menjadikannya sebagai "queen bed" instead of twin bed.
 
Tapi ada satu hal menarik di parkiran hotel. Saya melihat ada beberapa electric car yang diparkir dan sedang nge-charge listrik di beberapa colokan yang tersedia. Colokannya ditempelkan di tempat biasa kita isi bensin di mobil normal. Saya cuman membayangkan kalau di Indonesia, colokannya bisa di-embat orang dan besok terpaksa mobilnya ndak bisa jalan karena "low bat" belum di charge. Untung di negara ini ndak ada maling seperti itu. Atau minimal ndak ada orang iseng yang nyabut colokan. Rasanya kalau mau masuk ke Indonesia kudu dipikirkan agar colokannya bisa "digembok". Kalau ndak bisa digondol maling. Ha....
Selengkapnya...

Minggu, Juli 19, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 10 - Voss Flam Bergen

Ramadhan Holiday 2015 - Day 10 - Voss Flam Bergen
 
Gara-gara postingan saya semalam di hari ke 8 soal pak Renold, banyak rekan peserta tour yang mengkonfirmasi ke saya, apakah benar pak Renold membawa rice cooker. Saya sampai ditegur istri karena dikira "memfitnah" demi sebuah sensasi. Tanpa perlu membuktikan kebenarannya, pagi ini saya dan beberapa rekan peserta tour menyaksikan bahwa pak Renold adalah satu-satunya peserta tour yang makan nasi buat sarapan. Pak Renold juga ternyata membawa 60 bungkus indomie dalam berbagai varian rasa, beberapa bungkus abon, dan sekantong besar obat obatan. Benar-benar well prepared rekan senior kita yang satu ini. Kita jadi terbahak bersama-sama. Ternyata Harris Turino ndak boong. Ha.... kalau dalam istilah matematika disebut QED (Quod erat demonstratum, kira-kira begitu tulisannya) yang artinya apa yang perlu dibuktikan sudah terbukti. Tentu saya ndak mungkin menulis mengada-ada. Ntar bisa kena sue orang donk.
 
Ada satu lagi yang menarik, yaitu kebiasaan pak Renold untuk membaca koran sambil makan pagi, dan tentu saja berdoa sebelum dan sesudah makan. Ada satu rekan yang sempat nyeletuk, "Dapat koran Indonesia dari mana pak?". Dengan santai pak Renold menjawab, "Ini koran minggu lalu, yang saya baca ulang untuk menemani makan pagi". Nah khan....
 
Pagi ini menu makanannya di Park Hotel Voss sih sebenarnya standard menu makan pagi di Eropa. Roti berbagai macam dengan teman-temannya, ham, sosis dan buah semangka. Tapi mungkin karena sudah 10 hari di perjalanan, banyak yang sudah mulai kangen dengan sambal goreng, soto ayam, sayur lodeh, tempe mendoan atau bahkan plecing kangkung. Maka ndak heran kalau banyak "indomie" rasa soto ayam, bakso, dan lain-lain bertebaran di meja makan. Ya minimal bisa buat tombo kangen.
 
Pagi ini acara kita naek kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut. Dari depan hotel kami naik kereta selama 1 jam menuju ke Myrdal. Dari sisi kiri kanan jendela aku melihat dinding pegunungan yang sebagian dilapisi dengan es. Padahal ini musim panas. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau winter. Di sini memang sangat terkenal sebagai tempat wisata musim dingin dengan bermain salju. Sesampai di Myrdal station pada ketinggian 866 above sea level (ASL) kami ganti menggunakan panoramic train yang terkenal dengan nama Flam Railway.
 
Kereta panoramic ini akan menyusuri gunung, meliuk-liuk melingkar punggung gunung untuk turun dan berakhir di station Flam yang terletak pada ketinggian 2 m ASL. Panjang perjalanan ini adalah 20 km dan ditempuh dalam kurun waktu 1 jam. Ini adalah jalur kereta normal yang paling terjal di dunia. Normal maksudnya menggunakan rel kereta api biasa dan bukan kereta bergerigi. Jalur kereta ini didirikan pada tahun 1909, dan sejak tahun 1944 sudah menggunakan lokomotif bertenaga listrik. Untuk mengurangi kemiringan-kemiringan yang drastis, terpaksa dibangun 20 buah tunnel sepanjang jalur ini dengan total panjang sekitar 6 km. Berarti sekitar 30 persen perjalanan di dalam tunnel. Ini menarik, sekaligus membuat bete. Pemandangan yang indah dan spektakular tidak bisa dinikmati gara-gara bolak-balik masuk goa.
 
Di tengah perjalanan panoramic train ini, tepatnya di stasiun Kjosfossen pada ketinggian 669 m, kereta dihentikan untuk memberikan kesempatan para penumpang untuk turun dan memotret air terjun Kjos yang arusnya sangat deras. Air terjun ini akan mengalir ke danau Reinunga dan dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga hydro yang cukup besar dan murah.
 
Tepat pukul 12 kami tiba di stasiun Flam yang terletak di tepi danau Fjord, tempat kemarin kita mengawali perjalanan Fjord Cruise selama 2 jam menuju Gudsvangen. Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju ke kota Bergen dan stop over di air terjun Tvindefossen yang memiliki ketinggian 152 m. Sayang tripod dan filter ND saya ada di koper besar yang susah dibongkar. Tanpa kedua alat itu, air terjun akan susah untuk "diolah" menjadi untaian kapas yang indah. Dengan peralatan yang ada, yaitu bongkahan batu besar, saya coba setting kamera di bukaan terkecil f 22, ISO terendah, agar bisa mendapatkan kecepatan rana yang paling rendah, yaitu 1/8 detik. Dengan bantuan timer dan ganjal batu, ya hasilnya lumayan. Kalau ada filter ND dan tripod, bisa di set pada 2 detik, hasilnya akan luar biasa. He....
 
Ada satu hal lain yang menarik ketika kami berhenti di air terjun ini. Di sini aada sebuah toko souvenir kecil yang tidak terlalu laku, dan juga menyediakan toilet dengan biaya Norwagian Krona NOK 10 atau setara dengan EUR 1.2 per orang. Busyet dah mau kencing aja harus bayar hampir Rp. 20.000,- rupiah. Welcome to Europe. Ha..... Saya menyaksikan serombongan turis China yang tadinya berbondong-bondong dan berebut mau masuk ke WC. Begitu ada papan pengumuman dan masuknya harus pakai koin, maka hampir semua yang tadinya kebelet kencing, langsung ndak jadi kebelet lagi. Tapi ada aja yang mencoba ngakalin sistem dengan cara memasukan 1 coin untuk berdua. Ya akhirnya bajunya kejepit. Padahal sudah jelas-jelas ditulis bahwa pintu masuk berputar ini dipantau pakai CCTV. Ha.... ada-ada saja. Tapi emang saya yakin penghasilan terbesar toko souvenir itu pasti dari jualan WC tinimbang jualan souvenir.
 
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke kota Bergen yang terletak sekitar 160 km dari Flam. Kota Bergen adalah kota kedua terbesar di Norwegia, dengan jumlah penduduk 274 ribu jiwa. Kota ini terkenal dengan julukan "Kota Tujuh Gunung" (the Seven Mountains City). Kota Bergen ini terkenal sebagai pusat dari aqua-culture, shipping, pusat pengeboran minyak offshore, tehnologi kelautan dan pusat pendidikan serta turisme. Pelabuhan Bergen adalah pelabuhan tersibuk di Norwegia. Kota ini didirikan tahun 1070. Tempat pertama yang kami kunjungi di Bergen adalah Floibanen, semacam Peak Trem yang ada di Hong Kong, menuju ke gunung Floyen. Jalur ini didirikan tahun 1918 dan merupakan pusat atraksi turis di kota Bergen. Setiap tahun tidak kurang 1 juta pengunjung menaiki trem ini, untuk melihat kota Bergen dari ketinggian. Waktu tempuhnya sekitar 7 menit termasuk pemberhentian di beberapa stasiun antara. Hampir seluruh kota Bergen tampak dari atas dan memang dikelilingi oleh air. Bahkan kelihatannya airnya jauh lebih luas dari daratannya. Menurutku pemandangan ini tidak seindah Hong Kong yang didominasi oleh gedung-gedung pencakar langit dan dihiasi oleh bertaburan cahaya. Gedung-gedung di Bergen tidak ada yang tinggi menonjol. Dan cahaya lampunya juga tidak tampak karena ini baru jam 8 malam dan mentari masih bersinar di musim panas.
 
Setelah turun dari Gunung Floyen, kami menikmati pemandangan di pusat kota Bergen, tempat di mana banyak parkiran yatch, sambil menunggu makan malam. Malam ini aku memutuskan untuk skip makan malam bersama group karena kepingin nyobain giant crab dan lobster di Market Square. Ini adalah makan malam yang paling lezat selama di perjalanan. Rasanya benar-benar istimewa karena memang bahan bakunya fresh dan hanya direbus dan diungkep, serta diberi garam. Tentu saja saya minta pakai garam Nutrisalin yang memang saya bawa dari Jakarta. Garam ini rendah sodium dan aman dikonsumsi oleh penderita hipertensi dan juga sangat bagus untuk orang-orang seusia saya untuk pencegahan. Siapa sih yang mau dan berani resiko terkena stroke? Hi... ngeri. Iya kalau langsung mati, lah kalau jadi vegetatif khan merugikan seluruh anggota keluarga. Maka mumpung lagi cerita makanan dan garam, sekalian ngingetin agar orang-orang seusia saya harus mampu mengendalikan asupan garam dengan cara mengganti garamnya dengan garam Nutrisalin. Oya, kembali ke soal makan sea food, sayang Gaby ndak bisa ikutan makan karena dia emang ndak bisa makan kepiting dan udang akibat alergi berat.
 
Tepat pukul 10 malam kami tiba di Quality Hotel Edvard Greig yang terletak di pinggiran kota Bergen. Besok kudu siap-siap untuk perjalanan panjang menuju Oslo.
Selengkapnya...

Sabtu, Juli 18, 2015

Ramadhan Holiday 2015 - Day 9 - Hamar Gudsvangen Voss

Ramadhan Holiday 2015 - Day 9 - Hamar Gudsvangen Voss
 
Hari ini kami meninggalkan kota kecil Hamar yang sepi tapi punya pemandangan yang luar biasa. Pepohonan di samping kiri kanan jalanan menambah eloknya pemandangan. Jalanan menuju ke Fjord berkelok-kelok seperti jalanan menuju ke Puncak. Rumah-rumah mungil yang terpisah jauh dengan tetangganya seolah "breaking the repetition" dari hijaunya pemandangan. Sangat udara sangat dingin dan hujan sehingga langit berwarna abu-abu. Kalau saja mentari bersinar, tentu akan menghasilkan pemandangan yang sempurna.
 
Satu lagi yang menarik perhatian saya adalah air. Sepanjang perjalanan aku menyaksikan danau, bendungan, atau sungai super besar di mana-mana. Sampai-sampai istriku berkomentar "kita sudah tahu harus lari ke mana kalau suatu ketika Indonesia kekurangan air penopang kehidupan". Ujar-ujar yang mengatakan bahwa Norwegia adalah negara 1000 danau terbukti. Data menunjukkan bahwa Norwegia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki tingkat hydro electric plant mendekati 99 percent. Wow.... benar-benar sumber energi yang murah dan bersih.
 
Kami makan siang di desa Lardal dengan menu yang sangat istimewa, yaitu Norwegian salmon. Berbeda dengan frozen salmon yang biasa kita makan di Jakarta, di sini salmonnya benar-benar fresh, apalagi di musim panas seperti sekarang ini. Kalau musim dingin pemburuan salmon berhenti karena salmon hanya bisa didapatkan di laut dalam, sementara pada musim dingin lautnya membeku. Selesai makan siang kami berfoto ria di tepi danau Lardal. Daerah ini sekaligus sebagai parkiran mobil karavan. Kami menyaksikan banyak keluarga menggunakan karavan sedang bersantai di samping "rumah mobilnya". Asyik juga tuh kapan-kapan kita bisa berwisata keliling Eropa menggunakan karavan. Waktunya bisa lebih fleksibel dan bisa memilih tempat-tempat eksotik yang dikunjungi.
 
Bicara soal fresh salmon, saya masih ingat kira-kira 3 bulan lalu saya diundang menghadiri acara Norwegian Nite oleh salah satu mahasiswa doktoral saya yang emang memiliki kaitan bisnis dengan Norwegia. Saat itu Dubes Norwegia di Jakarta menjelaskan bahwa Norwegia adalah negara pengekspor minyak terbesar di dunia di luar Timur Tengah. Kalau secara keseluruhan nomer 5 di dunia. Kontribusi minyak sebesar 33 persent dari total ekspor Norwegia. Negara ini juga eksportir terbesar ketiga untuk gas. Kontribusi gas adalah sekitar 24 persen. Jadi total kontribusi migasnya sekitar 57 persen dari total ekspor Norwegia, atau hampir 20 persen dari total GDPnya. Padahal jumlah penduduknya hanya 5,1 juta jiwa. Ini yang membuat Norwegia menjadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi kedua di Eropa sesudah Luxemburg, dan keempat terbesar di dunia. GDP per kapitanya mencapai USD 80,500. Bandingkan dengan Indonesia yang saat ini memiliki GDP per kapita hanya di kisaran USD 3,500. Ini juga menjadikan Norwegia sebagai negara dengan jumlah cadangan devisa per kapita terbesar di dunia. Human Development Indeksnya juga tertinggi di dunia. Ekonominya adalah kombinasi antara kapitalis ekonomi dan welfare state.
 
Persoalannya adalah hampir seluruh ladang minyak Norwegia adalah ladang minyak laut dalam yang biaya eksplorasinya mahal. Dengan turunnya harga minyak mentah dunia saat ini di kisaran USD 50 - 60 per barel, praktis tidak mungkin lagi Norwegia melakukan eksplorasi minyak. Sehingga income negara tersebut turun sangat drastis. Ekspornya saat ini praktis hanya mengandalkan hasil laut dan ekspor hydro power. Kondisi ini sangat menyulitkan Norwegia. Atas dasar itulah Norwegia mengundang Menteri Kelautan, Susy Pudjiastuti, dalam acara Norwegian Nite tersebut. Tujuannya adalah menjalin kerja sama dengan Indonesia di bidang kelautan, sesuai dengan konsep Negara Maritim yang diusung Jokowi. Norwegia memang negara yang memiliki tehnologi penangkapan ikan, pelestarian samudra dan pengolahan hasil laut yang paling canggih di dunia. Saya masih ingat jawaban Menteri Susy saat itu sangat sederhana dan lugas, "Kalau cuman mau nangkap ikan di Indonesia, ijin sudah tertutup karena Indonesia sudah menetapkan moratorium ijin baru untuk kapal-kapal asing. Tetapi kalau akan investasi di pengolahan hasil laut, tentu saja Indonesia sangat terbuka. Syaratnya harus ada proses transfer tehnologi. Mantap pisan ya menteri kita yang cuman lulusan SMP. Pak Dubes Norwegia sampai tersenyum dengan kecut.
 
Beruntung bahwa Norwegia adalah satu-satunya negara di kawasan Eropa yang memiliki surplus pada Neraca Pembayarannya selama bertahun-tahun, sehingga memiliki Soverieghty Wealth Fund terbesar di dunia. Passive income Norwegia dari hasil investasinya di luar negeri menyelamatkan perekonomian negara tersebut sehingga tidak terlalu terpuruk ketika banyak negara di kawasan Uni Eropa yang bermasalah, seperti Yunani, Portugal, Italia dan Spanyol (PIGS).
 
Setelah makan siang kami melewati tunnel 24.51 km. Ini merupakan tunnel jalan raya terpanjang di Dunia. Ini lebih panjang dari Gotthard Road Tunnel di Switzerland yang hanya 17.5 km. Kalau untuk tunnel kereta api sudah ada yang panjangnya 50 km lebih. Namanya Lardal Tunnel yang terletak 175 km sebelah timur laut kota Bergen. Lardal Tunnel didirikan tahun 1995 - 2000 dengan biaya USD 125 juta. Tunnel ini menjadi jalur utama yang menghubungkan kota Oslo dan Bergen, di samping tentu saja ada transportasi ferry melalui sungai atau jalanan mengitari puncak gunung. Pada saat musim dingin jalur mengitari puncak gunung sulit untuk dilewati karena akan tertutup salju. Sehingga tunnel ini adalah jalan satu-satunya yang mungkin untuk dilewati. Di dalam tunnel terdapat permainan lampu berwarna biru yang memberikan kesan kita berada di planet lain. Kami sempat berhenti untuk memotret, tetapi suasananya kurang aman dan nyaman. Sehingga tidak terlalu lama kami jalan lagi menuju ke pelabuhan Fjord.
 
Acara dilanjutkan dengan menaiki Fjord Cruise selama 2 jam menyusuri danau Fjord yang berada pada ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Air dari danau ini berasal dari lelehan es di puncak gunung pada musim panas. Sehingga tampak banyak sekali air terjun kecil dan besar yang mengalirkan air ke danau. Dari atas kapal bahkan terlihat beberapa aliran air di daerah puncak kembali lagi membeku menjadi salju. Ini adalah pemandangan yang menakjubkan. Mirip dengan perjalanan menyusuri danau Guilin di China, cuman di Fjord udaranya jauh lebih dingin. Suhu udara sih hanya menunjukkan 12 derajad celcius, tetapi tiupan angin kencang membuat serasa udara di kisaran 5 derajad. Apalagi bagi orang tropis seperti kami. Tapi saya dan pak Hendra Purnomo tetap bertahan di geladak kapan mencoba mengabadikan pemandangan yang luar biasa. Jadi ingat kata-katanya Ustad Jefry, "Nikmat apalagi yang kau ingkari, wahai manusia?".
 
Setelah 2 jam berlayar, kapalnya mendarat di pelabuhan Gudsvangen. Tepat pukul 19.15 kami tiba di Park Hotel Vossevangen di kota Voss. Ternyata kota Voss lebih sedikit penduduknya dibandingkan dengan Hamar. Di Voss cuman ada 14.000 penduduk. Kota ini hanya hidup dari turis. Di musim panas seperti ini Voss menawarkan arena Rafting, tandem skydiving, sea kayaking, river cruise dan golf course walau cuman 9 holes. Sedangkan di musim dingin yang ditawarkan cuman satu dan sejenis, yaitu ski dan atraksi-atraksi ikutannya. Malam ini kami makan malam sangat istimewa, yaitu buffet dinner. Menunya sea food, mulai dari udang, kerang, dan tentu saja ikan salmon dengan segala macam variancenya, yaitu raw (sushi), smoke, half cook, dan lain-lain. Pokoknya dipuas-puaskan makan sea food selama di Norwegia.
 
Kembali lagi malam ini kita "bersaing" dengan rombongan turis dari China yang makannya ganas-ganas. Yang selalu membuat saya miris ketemu rombongan turis China bukan pada banyaknya makanan yang diambil, tetapi nyerobotnya dalam antrian dan sisa makanan yang tidak mereka makan. Emang sih bukan urusan kita, tetapi adalah sebuah etika universal untuk hanya mengambil makanan yang bisa kita habiskan. Jangan-jangan budaya nyerobot dan mengambil sebanyak-banyaknya itulah yang membuat bangsa China sukses merantau di manapun di seluruh ujung bumi. Walaualam.
Selengkapnya...