Rabu, April 16, 2014

Quo Vadis Jokowi - Kompas Siang 16 April 2014

Selengkapnya...

Rabu, September 18, 2013

Paradoks Sistem Transportasi Massal - Kompas Siang 17 September 2013

Baru-baru ini kita dengar bahwa dalam waktu dekat akan segera diluncurkan mobil murah ramah lingkungan oleh Toyota dan Daihatsu yang dibandrol pada kisaran harga di bawah 100 juta rupiah. Bahkan konon sudah lebih dari 18.000 unit mobil tersebut ludes dipesan pada peluncuran perdananya. Pertumbuhan jumlah kendaraan ini tampaknya susah dihindari mengingat belum tersedianya sistem transportasi massal yang memadai. Bisa dibayangkan kemacetan jalanan di Ibukota yang akan menjadi semakin parah. Tanpa adanya terobosan yang berarti pada sistem transportasi massal diperkirakan kota Jakarta akan lumpuh dalam 3 - 4 tahun ke depan dengan semakin pesatnya pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi oleh penambahan panjang jalan yang memadai. Sistem transportasi massal di Indonesia memang boleh dikatakan unik dan mengandung unsur paradoks. Bila di kota-kota metropolitan dunia sistem transportasi massal bergerak membesar dalam hal daya angkut, di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya. Sejarah menunjukkan pada jaman penjajahan Belanda dulu trem yang memiliki daya angkut besar sudah beroperasi di kawasan kota Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jaman, trem menghilang dan digantikan oleh bus PPD dan Damri, lalu ditambahkan Metromini dan Kopaja yang memiliki daya angkut yang lebih kecil lagi dan akhirnya malahan menjadi semakin kecil dengan Mikrolet. Dengan sistem transportasi massal yang seperti ini, mudah diduga bahkan kemacetan pasti akan terjadi dan akan semakin parah di masa mendatang. Dengan kemacetan yang membuat ekonomi transportasi biaya tinggi, baik dalam hal pemborosan energi maupun waktu tempuh, maka merebaknya pemakaian sepeda motor menjadi suatu keniscayaan yang sulit dihindari. Sepuluh tahun yang lalu penulis sudah pernah mengingatkan mengenai pertumbuhan sepeda motor ini kepada Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, bahwa apabila tidak dikendalikan maka kondisi lalu lintas di Jakarta bisa menjadi seperti di kota Ho Chi Minh City (HCMC) di Vietnam, di mana satu mobil bisa dikepung oleh puluhan sepeda motor. Bahkan sekarang yang terjadi di Jakarta sudah jauh lebih parah dibandingkan dengan HCMC. Berbeda dengan penanganan banjir yang memang dibutuhkan dana yang sangat besar dan harus melibatkan pemerintah pusat, kemacetan ini sebenarnya bisa ditangani dengan selembar kertas, yaitu berupa peraturan. Belajar dari pengalaman beberapa pemerintah kota Metropolitan di dunia dalam menyiasati kemacetan lalu lintas, tidak ada jalan lain kecuali dengan memberlakukan pembatasan jumlah kendaraan. Pemerintah kota Beijing, Shanghai dan bahkan Lagos di Nigeria memberlakukan pelarangan sepeda motor untuk beroperasi di jalan-jalan protokol. Singapura menerapkan pengenaan bea masuk dan pajak kendaraan bermotor yang sangat tinggi, pembatasan usia kendaraan bermotor yang boleh beroperasi, pengenaan biaya parkir yang sangat mahal, serta penerapan ERP untuk rute-rute jalan protokol. Wacana seperti itu hampir tidak pernah terdengar, kecuali mengenai kebijakan penerapan sistem ganjil genap dan ERP. Kebijakan tersebut memang tidak popular dan membutuhkan keberanian yang tinggi untuk melaksanakannya. Dan tentu saja hal ini harus diimbangi dengan percepatan pembangunan sistem transportasi massal yang memadai. Di balik kesuraman wajah sistem transportasi di Indonesia, sebuah berita positif terbersit, yaitu dengan akan dimulainya pembangunan MRT tahap satu rute Lebak Bulus - Kota pada bulan Oktober 2013 ini. Rencana ini sebenarnya sudah tertunda hampir 25 tahun dan sudah melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur di DKI, dan baru kali inilah Jokowi berhasil merealisasikannya. Harus pula segera dipersiapkan pembangunan MRT tahap berikutnya. Semoga proses pembangunan MRT ini tidak akan tertunda lagi oleh berbagai konflik kepentingan, baik ekonomi maupun politik, terutama menjelang tahun pemilu 2014. Media sebagai kekuatan yang luar biasa perlu membantu mengawal kesuksesan pembangunan sistem transportasi massal ini. Niscaya Jakarta akan menjadi kota yang lebih beradab. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School Selengkapnya...

Ephoria Jokowi - Rasional atau Bubble? - Kompas Siang 27 Agustus 2013

Meningkatnya popularitas Joko Widodo (Jokowi) akhir-akhir ini memunculkan eforia yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Masyarakat seolah-olah telah menemukan figur Ratu Adil yang selama ini diimpikan, terutama sejak era reformasi bergulir. Setiap gerakan Jokowi, dan wakilnya Ahok, selalu mendapat apresiasi dan pujian secara luas di seluruh media, baik media massa, TV, media cetak, media on line, serta media sosial. Sejak dilantik menjadi Gubernur DKI bahkan banyak media massa berpengaruh di negeri ini menyoroti langkah yang diambil pasangan Jokowi - Ahok dan membuat reportasi kinerja hari demi hari. Belum lagi media sosial seperti facebook, tweeter, blog dan media sosial lainnya juga mengusung topik Jokowi sebagai "hot news" setiap hari. Peranan media ini memberikan kontribusi utama kenaikan popularitas Jokowi dalam survey longitudinal yang dilakukan oleh Kompas. Boleh dikatakan Jokowi saat ini adalah seorang "media darling". Siapapun yang berseberangan dengan Jokowi dalam hal kebijakan bahkan menjadi "public enemy". Kita tentu ingat bagaimana Lurah Warakas Mulyadi yang menolak sistem lelang jabatan Lurah dan Camat, Ketua DPRD DKI yang mengkritik Jokowi soal MRT dan yang paling baru Haji Lulung dalam kasus pembenahan Tanah Abang. Media massa memang memberikan informasi berita secara berimbang, tetapi di media sosial jelas tampak keberpihakan terhadap kubu Jokowi. Kubu penentang Jokowi akan menuai hujatan mengalir bak air bah. Pertanyaan yang menggelitik saya adalah, apakah apresiasi ini memang layak, atau hanya karena ikut-ikutan terbawa eforia yang secara terus menerus diberitakan? Saya mencoba membuat tulisan sederhana ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Popularitas Jokowi jelas akan jeblog dalam jangka panjang jika hanya mengandalkan peranan media dan tidak ditopang oleh kinerja Jokowi sendiri selaku Gubernur DKI. Kerja sama Jokowi selaku Gubernur dengan gaya "njawani" (santun, bersih dan merakyat) dan Ahok selaku Wakil Gubernur dengan gaya "preman balaikota" memang suatu kombinasi yang pas untuk memimpin Jakarta. Dalam 9 bulan kepemimpinannya, terbukti pasangan Jokowi - Ahok berhasil menata waduk Pluit dan pasar Tanah Abang. Ini jelas suatu "mission impossible" yang berhasil diselesaikan oleh Jokowi - Ahok tanpa menimbulkan gejolak sosial yang berarti. Prestasi lain adalah berhasil ditandatanganinya pembangunan MRT yang sudah tertunda lebih dari 25 tahun dan melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur. Lelang jabatan Lurah dan Camat juga menjadi terobosan Jokowi untuk meningkatkan kinerja bawahannya. Di samping itu sampai saat ini pasangan Jokowi - Ahok diindikasikan bersih dari suap dan korup, serta konsisten dalam berbicara dan bertindak. Ini yang membuat citra Jokowi terangkat di mata masyarakat Indonesia. Dalam menyongsong tahun politik 2014, Jokowi saat ini dilihat sebagai alternatif terbaik di antara kandidat pemimpin yang ada. Yang menjadi pembanding adalah kinerja pemerintahan pusat saat ini yang terkesan lamban dan sulit keluar dari budaya korup. Pembanding lainnya adalah para calon Presiden yang saat ini digadang-gadang oleh beberapa partai politik. Dari sisi kualitas tidak terdapat calon lain yang cemerlang. Ibaratnya 4L (lu lagi lu lagi). Sementara Jokowi selain konsisten, dia menawarkan cara kerja yang berbeda. Usianya yang relatif masih muda, ditambah gaya blusukan dan komitmennya memberantas korupsi adalah beberapa faktor yang membuat Jokowi menjadi unique and valuable. Dalam teori manajemen, bila ingin mengungguli pesaingnya, maka sebuah perusahaan harus mampu menciptakan keunikan yang bermanfaat bagi pelanggannya. Maka harus diakui juga, keunikan Jokowi menempatkan dirinya berbeda dan unggul di antara kandidat lainnya. Harus diakui bahwa fenomena Jokowi ini juga tidak terlepas dari unsur herding. Yang perlu dicermati adalah jangan sampai herding ini menjadi "bubble" yang akan meletus di kemudian hari. Walaupun demikian eforia masyarakat terhadap Jokowi memang nyata. Ada konsistensi bertindak dan hasil kerja yang dirasakan. Maka media perlu tetap berimbang dalam menyuarakan kritik kepada Jokowi agar tidak "layu sebelum berkembang". Tentu saja harus kritik yang membangun dan rasional, bukan keripik udang di balik batu. Indonesia perlu pemimpin yang bersih, tegas dan berani serta memimpin dengan hati nurani. Dan semua modal itu ada pada diri seorang Jokowi. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School Selengkapnya...

Jumat, Agustus 23, 2013

Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana

22 Agustus 2013 Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan karier seseorang. Bahkan boleh dikatakan inilah masa-masa di mana seseorang menapaki karier tertinggi dalam kehidupannya. Hari ini rekan-rekan Polri alumni Akpol tahun 1988 yang tergabung dalam Batalyon Adhi Pradana merayakan puncak acara reuni perak pengabdian selama 25 tahun. Acaranya sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak semalam, yaitu diawali dengan makan malam bersama di hotel Patra Jasa Semarang. Kebetulan saya mendapatkan kehormatan untuk bisa menjadi anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana, maka saya hadir pada acara istimewa ini. Dari total anggota Batalyon Adhi Pradana sebanyak 220 orang, 150 orang di antaranya hadir pada acara reuni kali ini. Sungguh satu prestasi yang luar biasa. Di kalangan sipil saja sulit sekali mengumpulkan alumni satu angkatan sebanyak itu dalam suatu acara reuni. Bahkan buat kalangan Polri sendiri, ini juga suatu persentase kehadiran yang istimewa bila dibandingkan dengan rekan-rekan seniornya yang sudah pernah merayakan reuni perak di tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar anggota Batalyon Adhi Pradana, yaitu lebih dari 170 orang sudah menyandang pangkat Kombes, bahkan ada 3 orang di antaranya sudah menyandang satu bintang di pundaknya dan satu orang lagi sudah menduduki job bintang satu juga. Bagi seorang prajurit, pangkat Kombes (atau kolonel di TNI) sebenarnya adalah pencapaian pangkat tertinggi. Lambangnya saja 3 melati di pundak. Melati itu tumbuh dari bumi, maka pangkat Kombes memang harus diraih dari prestasi dan perjuangan dari bawah. Sedangkan bintang (baca: Jenderal) khan turunnya dari langit. Berarti sudah berada di luar kendali kita. Di sinilah makna LUCK (keberuntungan) berperan. Tentu yang saya maksud keberuntungan adalah suatu kombinasi dari kompetensi (di dalam kontrol kita) dan kesempatan yang muncul (di luar kendali kita). Jadi para "Melati di Tapal Batas, Menanti Bintang Jatuh" ini sebenarnya memang harus banyak berdoa dan bekerja sebaik mungkin agar "Semesta Mendukung". He... Dari pengamatan saya pribadi yang sudah bergaul cukup lama dengan rekan-rekan polisi, saya yakin dalam waktu dekat akan ada beberapa lagi rekan Batalyon Adhi Pradana yang akan ketiban bintang. Semoga mereka-mereka yang terbaiklah yang segera mendapatkannya, sehingga bisa lebih memberikan warna yang lebih baik bagi Polri secara keseluruhan. Keikut-sertaanku dalam acara reuni perak Batalyon Adhi Pradana ini sebenarnya berawal 14 tahun yang lalu, ketika aku mengambil studi lanjut di program pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian. Saat itu 12 dari 30 mahasiswa program KIK tersebut adalah anggota Batalyon Adhi Pradana. Semuanya rekan AP saat itu masih berpangkat Kapten. Kami sering bergurau dengan saling menyebut "kutu kupret" untuk melambangkan bahwa mereka memang masih kelas "kutu kupret" alias bukan siapa-siapa. Saya masih ingat ketika kami sama-sama merayakan kenaikan pangkat mereka menjadi Mayor di tahun 1999. Masih terbayang betapa bangganya mereka menyandang sebuah melati di pundaknya sebagai simbol dari Perwira Menengah. Bahkan sampai saat ini saya masih sering memanggil mereka dengan pangkat MAYOR. Dari situlah saya jadi sering mengikuti kegiatan-kegiatan Batalyon Adhi Pradana dan akhirnya secara resmi diakui sebagai anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana. Terima kasih rekan-rekan atas penghargaan yang diberikan kepada saya. Acara reuni pagi ini diawali dengan penyambutan resmi peserta reuni perak Batalyon Adhi Pradana oleh Gubernur Akpol di Lapangan Bhayangkara Akpol. Semua rekan-rekan mengenakan baju PDH Polri lengkap dengan baret Sabharanya. Saya sendiri sebagai anggota kehormatan mengenakan jas lengkap dengan baret Sabhara. Waktu difoto tampak keren juga ya kalau saya pakai baret. He... Sesudah penyambutan dilanjutkan dengan menyaksikan parade dan permainan drumband taruna Akpol tingkat dua. Wow, mereka benar-benar profesional dalam memainkan drum tersebut. Beberapa rekan cerita bahwa Batalyon Adhi Pradana adalah satu-satunya Batalyon yang tidak memiliki tim drumband akibat perubahan sistem di pendidikan Akpol di tahun 1988 dari 4 tahun pendidikan menjadi 3+1 tahun pendidikan dan pasis. Perubahan sistem itulah yang juga membuat adanya 2 Batalyon di tahun 1988, yaitu yang masuk tahun 1984 dan lulus 1988, batalyon AW, dan yang masuk tahun 1985 dan lulus juga tahun 1988, batalyon Adhi Pradana. Kedua batalyon ini dilantik bersama oleh Presiden Soeharto. Kembali ke soal pertunjukan drumband taruna-taruni, gerakan-gerakan mereka sangat gesit dan trengginas. Beberapa atriksi khayang sambil mukul drumb, bas yang diputar-putar sampai mayoret yang melempar-lempat stick komando diperagakan dengan sangat baik. Kalau ada pertandingan drumband, saya yakin tim Akpol dan Akmil akan menjadi yang terbaik. Di swasta sulit sekali menciptakan kedisiplinan dan punya waktu sebanyak itu untuk latihan. Acara dilanjutkan dengan seremoni serah terima Aula Adhi Pradana yang sudah direnovasi oleh rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Di samping kiri dan kanan Aula nan megah itu berdiri masing-masing 8 buah pohon palem yang melambangkan angka 88. Acara pelepasan burung juga mewarnai seremoni ini yang melambangkan anggota Batalyon Adhi Pradana yang sudah melanglang buana bumi nusantara dalam berkarya. Selanjutnya kami memasuki beberapa ruangan tempat rekan-rekan dulu kuliah. Semuanya duduk berbanjar mencoba menirukan gaya-gaya taruna mereka 28 tahun yang lalu. Lucu sekali karena beberapa kursi kuliah sudah ndak muat mereka duduki. Tetapi akibat dipaksa maka kursinya tetap menempel di bokong ketika mereka berdiri. Ha..... Acara selanjutnya adalah seremoni upacara di lapangan di mana masing-masing rekan dibagi menjadi 5 kompi tempat asal mereka dahulu. Acara diawali dengan laporan dari masing-masing kumandan kompi kepada mantan kumandan batalyon Adhi Pradana. Sang Kumendan Batalyon kelihatannya sudah purna tugas dengan pangkat terakhir Kolonel Polisi, sementara 2 dari 5 Kumendan kompi yang lapor adalah seorang Brigadir Jenderal. Karena ini hanya seremoni, maka laporannya lucu-lucu. Salah satu yang saya ingat adalah laporan dari kompi 2 dimana komendan kompi melaporkan, "Lapor, kompi dua jumlah 27 hadir 23, 2 nyuci piring dan 2 sakit, siap mengikuti upacara." Lalu diperagakan bagaimana seorang kumandan batalyon dulu menggampar salah satu anggota kompi satu, rekan Kombes Rio, sampai berputar seperti gasing. Celotehan-celotehan lucu dari mantan Kumendan Batalyon yang memanggil tarunanya dengan sebutan "Hai Monyet" juga lucu-lucu. Semua saat ini tertawa, tapi saya yakin "sang monyet" 28 tahun yang lalu pasti tergopoh-gopoh bahkan mungkin terkencing-kencing di"sapa" sang DanYon. Ha..... Upacara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Batalyon Adhi Pradana dan foto bersama. Sesaat sebelum bubar, kebetulan ada mayor taruna beneran (taruna Akpol tingkat 3) yang lagi upacara siang menjelang makan siang. Beberapa rekan iseng ngerjain sang taruna-taruni itu dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di tengah lapangan upacara yang panasnya audubilah. Tanpa berani membantah sepatahpun mereka berguling seperti bola. Beberapa yang sedang jalan disetop dan ditanya siapa nama bapaknya sambil ngomong "nah sekarang saatnya balas dendam". Yang ditanya hanya bungkam dan paling teriak "siap, siap dan siap". He... satu sisi pembentukan budaya disiplin dan kepatuhan organisasi yang tidak pernah saya alami dalam sepanjang karier saya. Sesudah selingan keisengan beberapa rekan, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama taruna-taruni tingkat tiga. Kebetulan saya satu meja dengan Kombes Eky Heri, Kombes Jan de Fretes, Kombes Ari (Mayor Lemu), 4 orang taruna dan seorang taruni. Format tempat duduknya memang diset demikian. Begitu sampai meja makan aku langsung nengguk minuman yang tersedia. Maklum haus sesudah panas-panasan di lapangan. Tapi aku lihat kiri dan kanan ternyata ndak ada yang nyentuh makanan atau minuman. Oooo ternyata aturannya adalah makan bersama dan selesai bersama. Aku cuman nyengir kuda. Kombes Jan de Fretes cerita bahwa ketika menjadi taruna junior dulu, acara makan adalah acara yang paling menyiksa, di mana dia dan rekan-rekan lainnya pasti dikerjain oleh para seniornya. Perintah menyantap kulit pisang dan kulit jeruk bahkan menjadi menu wajib kalau diperintah senior. Ndak ada kata menolak. Para taruna dan taruni yang makan bersama kami siang itu duduk dengan sikap sempurna. Tidak bergiming, tidak bersuara, tidak tersenyum sama sekali. Hanya berkata bila ditanya, itupun jawaban pendek-pendek khas militer. Sesudah beberapa sambutan, dan laporan yang diikuti tiupan terompet, baru acara makan dimulai. Yang menarik adalah cara para taruna dan taruni makan. Setelah mohon ijin dari senior, mereka mengambil menu makanan di meja satu persatu bergiliran secara tertib. Setelah menu terbagi adil dan habis, baru mereka minta ijin untuk makan. Makannya bersamaan dan tidak ada satupun yang mendahului. Jadi jatah makanan terbagi adil dan tidak ada yang mendapatkan lebih. Selesai makanpun berbarengan dengan aba-aba meletakkan sendok dan garpu. Lalu minta ijin lagi berhenti makan. Wow.... satu pengalaman yang belum pernah saya saksikan sepanjang hidup saya. Saya pikir siang ini saya makan dengan 5 orang robot tanpa ekspresi sama sekali. Tapi begitu kami meninggalkan meja untuk keluar dari ruang makan, saya amati mereka mulai bisa ngobrol dan bercanda ceria. Ternyata mereka bukan robot. He.... Sebelum naik ke bus untuk menuju ke tempat acara "Rembug Adhi Pradana" kami kebetulan melihat taruna-taruni Akpol tingkat satu yang sedang latihan. Mereka membawa ransel, tas cangklong, dan senjata panggul dan diminta berlarian mengelilingi lapangan. Lalu berjalan jongkok menanjak sejauh hampir 300 m. Beberapa diantaranya sampai ngesot-ngesot ndak kuat lagi jongkok dengan beban sebegitu berat. Tetapi mereka tetap tabah dan pantang menyerah. Yang terkapar pun bangkit lagi karena akibatnya bakalan lebih parah kalau menyerah. Sementara para senior dan pelatih berteriak-teriak di samping barisan. Mirip petani menggiring itik menuju sawah. Dengan seragam warna tanah dan topi baja, mereka ngengsot sampe elek. Begitulah kehidupan di dunia Akademi Kepolisian. Di sinilah dibina calon-calon perwira polisi di masa yang akan datang. Saya yakin, jaman dulu ketika Polri masih bagian dari ABRI maka tempaannya lebih berat lagi. Tapi tentu saja bukan cuman fisik yang dibentuk, tetapi juga mental dan intelektual. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan mengenai HAM yang memang sudah dimasukkan kedalam kurikulum Akpol. Dengan pola pembinaan, pelatihan dan pengajaran yang baru, diharapkan Para perwira Polri yang dihasilkan akan jauh lebih baik dan bermartabat. Acara malam hari ditutup dengan makan malam bersama di Akpol. Dalam acara itu diputar ulang perjalanan kilas balik rekan-rekan Adhi Pradana ketika mereka mulai masuk ke Akmil tahun 1985. Walaupun saya tidak ikut mengalami kejadian tersebut, tetapi tetap bisa ikut tertawa menyaksikan kisah-kisah lucu ketika rekan-rekan masih pada kurus dan elek. Tempaan fisik yang begitu hebat tergambarkan secara jelas dan gamblang dalam video kilas balik tersebut. Sebuah pengakuan dari rekan yunior lulusan 1989 dari Batalyon Dharana Lakstarya, mengatakan bahwa hanya dengan satu jari telunjuk yang diputar-putar, seorang tokoh keren mas Riper (Kombes Rio Permana) dan mas Argat (Kombes s Ario Gatut) bisa membuat seluruh anggota Batalyon Dharana Lakstarya berguling-guling dan berputar. Ha..... kelihatannya mas Riper dan mas Argat dalah maskot yang paling menakutkan bagi para junior saat itu. Yah itulah bagian dari kehidupan rekan-rekan sebagai ex taruna Akpol. Saya terkesan dengan sambutan Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar, mantan Kapolri dan Dubes Indonesia di Malaysia. Dengan lugas dan gamblang beliau menyampaikan bahwa semenjak keluar dari struktur Polri, mata beliau sebagai purnawirawan semakin tajam menyoroti kinerja Polri saat ini, telinganya semakin peka terhadap semua kritikan yang dulu hampir tidak terlihat dan terdengar. Beliau mengungkapkan contoh ketika mewawancarai masyarakat perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Utara. Betapa sekarang masyarakat merasakan perhatian pemerintah sudah semakin jauh dari harapan. Maka beliau berpesan bahwa reformasi ini belum selesai. Beliau menitipkan kepada para perwira Batalyon Adhi Pradana yang sebentar lagi akan menduduki pucuk-pucuk pimpinan di Polri, agar jangan sampai mengabaikan saudara-saudara kita di luar pusat kekuasaan di pulau Jawa. Beliau juga menitipkan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana mampu menjaga 2 pilar penyangga keutuhan NKRI, yaitu Polri dan TNI agar tetap solid. Suatu pesan moral yang sangat dalam arti dan maknanya. Sesudah dendang lagu terakhir dari Yuni Shara, acara puncak reuni perak Batalyon Adhi Pradana di Akpol Semarang ditutup. Rekan-rekan besok masih akan melanjutkan reuni gabungan Werving 1985 dengan rekan-rekan TNI di Magelang. Saya sendiri memilih untuk tidak mengikuti acara yang lintas angkatan, karena ndak enak dengan rekan-rekan TNI. Akhirnya malam ini kutulis pengalaman yang sangat indah dan mengesankan ini dengan satu harapan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana semakin sukses menapaki puncak karier sebagai anggota Polri yang rata-rata masa dinasnya tinggal 10-12 tahun lagi. Jangan sampai ada yang terpeleset di puncak karier rekan-rekan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi merah dan putihnya republik ini akan ditentukan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi citra Polri akan dipertaruhkan. Semoga semakin banyak bintang bersinar dari rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Semoga Polri menjadi semakin berwibawa dan dicintai di bawah pimpinan rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Salam Adhi Pradana. Loyal Everywhere. Dr. Harris Turino Anggota Kehormatan Batalyon Adhi Pradana Selengkapnya...

Kamis, Agustus 15, 2013

Day 8 - Vienna

14 Agustus 2013 Day 8 - Vienna Hari ini tour kami menyusuri kota Vienna, yang terkenal sebagai "the city of music" karena disinilah "pusat musik" dunia, dimana tokoh-tokoh musik klasik berkembang dengan pesat, seperti Mozart, Ludwig van Beethoven, Strauss dan masih banyak lagi. Kota ini juga dikenal dengan nama "the city of dream" karena di kota inilah lahir dan dibesarkan tokoh psiko-analis yang sangat terkenal, yaitu Sigmund Freud. Di samping itu, pemimpin German yang sangat terkenal sepanjang masa, Adolf Hitler, juga dilahirkan dan dibesarkan di kota ini sebelum Hitler migrasi ke German dan menjadi penguasa yang membantai jutaan orang Yahudi pada masa sebelum sampai saat Perang Dunia kedua. Kota ini juga menjadi pusat kekuasaan Dinasti Habsburg yang pernah menguasai hampir seluruh daratan Eropa Tengah, yang wilayahnya meliputi 17 negara (Astro Hungaria). Salah satu pemimpin Dinasti Habsburg yang paling terkenal dalam menaklukkan bangsa-bangsa di Eropa Tengah adalah Maria Teresa, anak perempuan dari Raja Charles I. Posisi Ratu Maria Teresa sebagai pemimpin negara jelas melanggar pakem yang saat itu berkembang di Eropa di mana kekuasaan kebanyakan ada di tangan seorang Pangeran. Di samping sebagai penguasa, Maria Teresa juga dikenal sebagai istri yang produktif. Dari perkawinannya dengan Pangeran Franks Stephen, dia memiliki total 16 anak, yang terdiri dari 4 orang anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Mamamia..... kalau anak pertama lahir pada usia 24 tahun, dan tiap tahun beranak, maka baru berhenti beranak pada usia 40 tahun. Sulit dibayangkan bagaimana kesibukan memimpin peperangan dan penahlukkan musuh dari atas ranjang persalinan. He.... Di samping rajin berperang, Maria Teresa juga rajin membangun istana. Total dinasti kerajaan ini memiliki 17 istana di wilayah yang dikuasainya. Pagi ini kami berkesempatan mengunjungi salah satu istana musim panasnya yang terkenal, yaitu Istana Schonbrunn. Istana Schonbrunn ini dibangun 320 tahun yang lalu dan merupakan replika dari istana Versailess di Paris. Istana ini sempat luluh lantak dihajar tentara sekutu dalam perang dunia kedua dan direstorasi sesudah perang. Sekarang istana ini digunakan sebagai obyek wisata yang menarik hampir 10.000 pengunjung setiap harinya. Istana Schonbrunn ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan istana musim dingin yang terletak di pusat kota Vienna. Istana musim dinginnya sendiri saat ini masih digunakan sebagai tempat kediaman dan pusat pemerintahan Austria saat ini. Tour di dalam istana musim panas Schonbrunn berlangsung hanya 40 menit dan sama sekali tidak diizinkan untuk memotret. Walaupun ornamen-ornamen istananya cukup megah, tetapi menurut saya masih jauh lebih sederhana dibandingkan dengan istana Versailess di Paris. Ruangan-ruangannya pun relatif lebih kecil. Sesudah tour di dalam istana, dilanjutkan dengan melihat taman di halaman istana yang luas. Saya membayangkan bahwa kekuasaan Dinasti Habsburg ini mungkin mirip dengan kekuasaan kerajaan Majahpahit di Indonesia pada jaman dahulu. Bahkan mungkin wilayah kekuasaan Majapahit jauh lebih luas, bahkan pernah sampai ke daerah Monggol. Sayang peninggalan Majahpahit tidak sedahsyat peninggalan kerajaan-kerajaan di Eropa. Saya juga membayangkan orang-orang hebat yang dimiliki Indonesia pada jaman dahulu, seperti Ronggowarsito. Seandainya dia hidup di benua Eropa, pasti namanya jauh lebih melegenda. Pada jaman itu seorang Ronggowarsito sudah mampu menulis ramalan yang menggemparkan dunia. Sayang dia hidup di budaya Indonesia. Buat perbandingan yang ekstrim, jaman baheula seorang Albert Einstein kejatuhan buah apel akhirnya mampu menemukan gravitasi. Di Indonesia saat ini, orang kejatuhan cecak masih dianggap mau kena petaka. Betapa ironisnya ya. Menurut local guide, Dinasti Habsburg runtuh sejak kekalahan Austria dalam perang dunia pertama. Keluarga Habsburg sendiri saat ini sudah tercerai berai dan banyak yang tinggal di luar Austria. Mereka memang masih memiliki kekayaan yang cukup besar, tetapi tidak memiliki kekuasaan secara politik sama sekali. Bahkan di antara mereka banyak yang saling bertengkar memperebutkan harta yang tersisa. Austria sendiri menelan kekalahan pada perang dunia kedua melawan pasukan sekutu. Akibatnya kota Vienna nasibnya sama dengan Berlin, yaitu di bawah kekuasaan 4 pihak, yaitu Uni Soviet di satu sisi dan kekuasaan Inggris, Perancis dan Amerika Serikat di sisi yang lain. Masih beruntung bahwa kotanya tidak disekat oleh tembok seperti yang terjadi di Berlin. Dan lebih beruntung lagi bahwa sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1989, banyak investasi asing yang masuk besar-besaran ke Austria dibandingkan dengan ke negara-negara ex Komunis murni yang di bawah kekuasaan Uni Soviet murni seperti Ceko, Slovakia, Estonia, Burgaria, Hungaria. Sehingga Austria bertumbuh sangat pesat sejak saat itu dan data yang diterbitkan oleh The Economist Intelligent Unit, menempatkan kota Vienna sebagai the most livable city di tahun 2005 bersama dengan kota Vancouver di negeri kulkas Canada dan di tahun 2012 menduduki ranking kedua sesudah Melbourne. Ketika data ini saya konfirmasi ke local guide, dia menjelaskan bahwa tingkat kejahatan di kota Vienna memang sangat rendah dan tingkat penganggurannya juga hampir nol. Rata-rata pendapatan penduduk kota Vienna adalah EUR 2500 per bulan netto dengan tingkat pajak yang cukup tinggi. Di Austria sendiri ada 4 jenis industri yang menunjang pertumbuhan ekonominya saat ini. Industri yang pertama adalah industri pariwisata. Austria memiliki minimal 3 kota yang menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara, yaitu Vienna, Insburg dan Salsburg. Insburg letaknya di timur Austria dekat dengan Switzerland dan terkenal sebagai resort musim dingin. Ada sebuah rumah kecil beratap emas yang menjadi point of interest. Insburg sendiri pernah menjadi tuan rumah olimpiade musim dingin. Sementara Salsburg terletak di utara dekat perbatasan dengan German. Di kota inilah tempat kelahiran Mozart dan terkenal dengan kota tempat film legendaris "Sound of Music". Kedua kota kecil itu penduduknya hanya sekitar 300.000 jiwa, tetapi jumlah turisnya bisa mencapai 5 juta per tahun. Di samping industri pariwisata, sektor lain yang menopang pertumbuhan ekonomi Austria adalah industri besi dan baja, industri kimia serta industri elektronik. Seusai dari istana Schonbrunn, kami mengunjungi alun-alun Santo Stephen (Saint Stephen Platz). Di alun-alun ini berdiri sebuah gereja kuno yang sangat indah, yaitu Katedral Saint Stephen. Tinggi menaranya mencapai 137 m dan saat dibangun, ini menjadi salah satu bangunan tertinggi di masanya. Di gereja itu terdapat makam Raja Frederick yang terkenal. Acara city tour berakhir tengah hari dan seperti biasa dilanjutkan dengan acara bebas alias shopping. Saya sendiri sudah benar-benar bosan dengan acara shopping ini. Jadi saya hanya menunggu di satu cafe dan pindah ke cafe lain sambil jagain anak-anak yang punya selera toko yang berbeda dengan mummynya. Secawan anggur merah dan kopi expresso Dopio menjadi teman yang setia. Akibat bosan menunggu keluarga yang shopping, iseng-iseng saya mencoba jeprat-jepret foto menggunakan lensa medium. Ternyata banyak obyek candit yang menarik dan lucu-lucu. Tentu saja yang bening-bening ndak lewat dari jepretanku. Supaya subyeknya ndak sadar difoto, aku pura-pura motretin bangunan toko dan gedung-gedung sekitar. Sayang ndak bawa lensa tele. Kalau pakai tele hasilnya akan lebih muantap lagi. He.... Acara jalan-jalan tour ke Eropa Timur berakhir malam ini dan ditutup dengan makan malam bersama di restaurant Thailand, walaupun acara tournya masih dilanjutkan besok pagi sebelum malam harinya persiapan kembali ke Jakarta. Secara simbolik saya diminta mewakili rekan-rekan peserta tour untuk menyerahkan tip kepada pengemudi bus, Mr. Sdenek, yang sudah menemani kami selama 7 hari berturut-turut. Sdenek orangnya cukup ramah, walaupun nyetirnya kadang agak ugal-ugalan untuk standard pengemudi bus wisata di Eropa. Sdenek bercerita bahwa besok dia harus menempuh perjalanan sejauh 1500 km menuju ke Bucharest untuk menjemput rombongan tamu dari Korea yang akan memulai tournya dua hari lagi. Total tournya 9 hari dan total perjalanan dengan rombongan Korea adalah 6.000 km. Gile berarti menjadi supir bus wisata benar-benar ndak bisa ketemu keluarga secara rutin. Hidupnya habis di atas roda kalau siang hari dan di hotel kalau malam hari. Suatu perjuangan yang tidak mudah dan tentunya sangat melelahkan. Terima kasih Sdenek. Hati-hati dijalan karena nyawamu dipertaruhkan setiap hari. Ini adalah malam terakhir di kota Vienna. Suatu perjalanan panjang yang indah. Semoga malam ini bisa tidur nyenyak agar besok fit menghadapi perjalanan panjang kembali ke tanah air. Selengkapnya...

Rabu, Agustus 14, 2013

Day 7 - Bratislava

13 Agustus 2013 Day 7 - Enroute Budapest - Bratislava - Vienna Sesudah 6 hari berturut-turut sarapan di hotel dengan menu yang mirip-mirip, hari ini anakku bawa turun "makanan andalannya", yaitu indomie. Bisa dimaklumi, mungkin dia udah mulai bosan makan sosis, roti, telur, bacon, yogurt, dan oatmeal. Katanya dah kangen ama tempe goreng. Jenis menu makan pagi di hotel-hotel bintang 4 di Eropa emang relatif terbatas. Jauh sekali dibandingkan dengan breakfast di hotel-hotel bintang 5 di Jakarta dan Bali. Hampir segala macam menu tersedia, mulai internasional, Japanese, Vietnamese, Balinese, gudheg, lontong opor sampai sambal terasi. Apalagi hotel-hotel bintang 5 di Indonesia relatif murah menurut patokan orang asing. Soal makanan jelas hotel-hotel di Indonesia ndak kalah. Apalagi kalau bicara dinner buffetnya restaurant Sailendra (JW Marriott Kuningan), restaurant Asia (Ritz Carlton Kuningan), Satoe (Shangrila Hotel) dan Hotel Mulia menurutku adalah buffet dinner yang sangat lengkap dan enak dengan harga yang relatif ok. Apalagi kalau weekend pakai BCA Platinum yang menawarkan buy 1 get 1 free. Di hotel-hotel tersebut aku pernah dengar banyak pegawai restorantnya yang nakal. Konon kalau pas rame, kita bisa makan berdelapan cuman bayar 3 orang ke restonya dan beri tip seharga 1 orang ke pelayannya. Mbuh sejauh mana kebenarannya. Kota Budapest kalau pagi hari ternyata macet lumayan parah. Walaupun lalu lintas mengalir, tapi tetap cepatan cuman 0 - 20 km/h gara-gara kebanyakan lampu merah. Dari sejak keluar jam 9 pagi, baru jam 10nya kami bisa lolos dari kemacetan. Pagi ini kami meninggalkan Budapest untuk menuju ke Bratislava, ibukota Slovakia. Dalam perjalanan dari Praha ke Budapest kami memang sudah melewati wilayah negara Slovakia, tetapi tidak mampir ke Ibukotanya. Siang ini kami mampir untuk makan siang dan mengunjungi kota tua Bratislava. Kotanya tidak sebesar Budapest. Di mataku ya mirip kota Brno lah. Bangunan-bangunan kunonya tidak semegah dan seartistik di kota Budapest dan Praha. Penduduknya hanya sekitar 600.000 orang dari total 5 juta orang penduduk Slovakia. Perjalanan dari Budapest sampai Bratislava ditempuh dalam waktu hampir 3 jam. Dalam pemberhentian terakhir untuk rutin toilet di perbatasan Hungaria, kami sempat ketemu dan ngobrol dengan 3 orang yang mengemudikan motor BMW series F800. Ternyata mereka jalan naek motor dari Istambul Turki, menyusuri Bulgaria, Slovakia, Hungaria dan sekarang dalam perjalanan menuju Ceko. Mereka sudah jalan selama 5 hari. Mereka sangat ramah begitu tahu kami dari Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Mereka cerita bahwa kondisi politik di Turki sekarang sudah stabil dan bahkan ketika terjadi krisis bulan lalu pun keadaannya tidak separah yang diberitakan media seperti CNN. Tampang mereka keren-keren dan mereka sangat tertarik ketika saya ceritakan tentang Indonesia, khususnya Bali. Motor BMW F800 yang mereka kendarai di Turki harganya sekitar EUR 17.000 atau sekitar 210 jutaan. Ndak tahu berapa harganya di Indonesia. Naek motor seperti itu keliling-keliling negara mungkin enak ya. Sayang saya sudah terlalu tua buat jenis avonturir seperti itu. Takutnya jatuh dan koit. He.... Dalam perjalanan di bus, istriku terima sms dari Jakarta yang mengabarkan bahwa 3 dari 6 pekerja rumah tangga belum balik dari liburan lebaran dan kemungkinan mereka bertiga tidak balik lagi. Ini pengalaman kami pertama kali kalau benar mereka madol. Selama ini para pekerja rumah tangga kami biasanya betah bertahan bertahun-tahun dan kalaupun keluar pasti ada alasan yang jelas seperti kawin dan beranak. Tahun lalu kami kehilangan 3 orang yang sudah ikut kami selama 7 - 9 tahunan. Yang dua karena beranak dan satunya kawin ikut suami. Nah 3 pengganti yang baru inilah yang kemungkinan madol. Wah repot nih. Bakalan mesti cari pengganti dan ngajarin lagi dari awal. Inilah susahnya kalau mengambil pekerja rumah tangga dari satu kampung. Satu madol, yang lain ikutan madol. Tapi itulah dinamika mengelola rumah tangga di Indonesia. Buat rekan-rekan yang migrasi (kaburwan) ke luar negeri dan sudah terbiasa mengerjakan seluruhnya sendiri, ndak bakalan punya masalah seperti ini. Yah masing-masing ada plus minusnya. Soal international BlackBerry roaming, selama di German dan Ceko saya menggunakan paket prabayar XL untuk BlackBerry 10 seharga Rp. 50.050 per hari dan ndak pernah ada masalah. Sementara anak saya pakai prabayar 3 yang lebih murah Rp. 30.300 untuk paket BlackBerry biasa. Sayang sejak masuk Hungaria, XL ndak punya kerja sama, jadi saya ganti pakai kartu Satelindo yang paketnya lebih mahal, yaitu Rp. 100.000 per hari. Sayang sudah diaktifkan ternyata hanya dapat signal BlackBerry cuman sebentar dan sisanya signalnya pakai simbol g kecil, jadi ndak ada paket datanya. Terpaksa deh hanya mengandalkan wifi gratisan. Letak Bratislava sebagai ibukota Slovakia cukup unik. Letaknya diujung barat daya negara tersebut dan jaraknya hanya 30 menit dari perbatasan dengan Hungaria dan Austria. Obyek wisata pertama yang kami kunjungi di Bratislava adalah Bratislava Casttle. Bentuknya kotak seperti meja terbalik. Casttle tersebut sebenarnya adalah Castle tua yang dibangun oleh dinasti Habsburg dari Austria. Tetapi Castle tersebut hancur luluh lantak dan baru selesai direstorasi ulang pada tahun 1980an. Bangunan lain yang terkenal di Slovakia adalah gereja katedral St. Martin yang puncaknya berbentuk replika mahkota kerajaan Hungaria. Dari castle kami menyusuri kota tua Bratislava yang teduh dan makan siang di sana. Kota tua itu dikelilingi benteng yang dahulunya adalah benteng pertahanan untuk mencegah serangan musuh. Sebuah jembatan cantik yang menyeberangi sungai Danube dan menghubungkan kota tua dengan kawasan baru. Namanya jembatan Novemost (Jembatan Baru). Di atas jembatan tersebut ada sebuah restorant yang menyajikan makanan lokal dan pemandangan yang indah ke kota Bratislava dari ketinggian. Selesai makan siang dalam perjalanan menuju ke Pusat factory outlet di kota Pandorf tiba-tiba sebuah mobil polisi menggiring bisa kami ke rest area dan memeriksa supir. Ternyata yang diperiksa adalah sebuah CD yang berisi rekam jejak perjalanan kendaraan ini sejak awal mulai tour tanggal 7 Agustus 2013. CDnya dimasukkan ke dalam komputer si polisi dan polisi menemukan kesalahan yang dilakukan oleh supir waktu di Praha, yaitu kami jalan selama 12 jam 20 menit. Menurut UU di Eropa ini jelas melanggar karena maksimum hanya boleh jalan selama 12 jam. Maka polisi mengenakan denda sebesar EUR 35 dan memberikan tanda terima. Wow.... hebatnya sistem pengawasan di Eropa ya. Bisa-bisanya ya mereka memantau lewat CD yang berisi log perjalanan. Beberapa hari lalu waktu tour leader, Marcel, menjelaskan tentang hal itu aku ndak percaya blas. Ternyata laen ladang laen belalang ya. Tehnologi memungkinkan pengawasan hal ini demi keselamatan penumpang. Rasanya di Indonesia masih jauh sekali dari kondisi ini ya. Wong supir montor mabur ae iso nggelek dan bawa pesawat. Opo neh supir bis. Kawasan Pandorf yang kami kunjungi, adalah kawasan factory outlet. Ada ratusan toko dalam sebuah kawasan yang nyaman di luar kota Vienna. Konsepnya mirip dengan tempat serupa di dekat Disneyland di Paris atau Woodbury di dekat New York. Ini benar-benar tempat buang duit. Toko-toko international branded menawarkan diskon gedhe-gedhean untuk barang-barang yang off season. Bagi pengunjung yang tidak belanjapun tempat duduknya nyaman. Seperti biasa toko Samsonite menjadi favorit karena belanjaan para peserta tour semakin banyak sehingga kopernya beranak pinak di Samsonite. Sepulang dari Pandorf kami melanjutkan perjalanan memasuki kota Vienna dan kami makan malam local Austria Food di kawasan kota tua. Selesai makan langsung check in di hotel Kavelier. Hotelnya bintang 4 dan terletak di pinggiran kota. Kamarnya jauh lebih nyaman dibandingkan dengan hotel Ibis di Budapest, apalagi hotel Panorama di Praha. Dan yang lebih penting lagi ada tempat mojok di jendela kamar yang bisa buat rokok-an dan wifi yang tersedia sampai di kamar. Selengkapnya...

Day 6 - Budapest

12 Agustus 2013 Day 6 - Budapest Pagi ini kami memulai tour di kota Budapest. Sejauh pengalaman saya, kota Budapest adalah kota paling indah dan romantis yang pernah saya kunjungi. Budapest sendiri adalah gabungan antara kota Buda di bagian barat yang agak berbukit dan kota Pest di bagian timur yang relatif rata. Kedua kota ini dipisahkan oleh sungai Danube yang lebarnya di daerah tersempit mencapai 213 m. Sungai Danube adalah sungai terpenting yang membelah kawasan Eropa Tengah dan melintasi 17 negara di kawasan Eropa, di antaranya Ceko, Slovakia, Austria, German, Rumania. Panjangnya lebih dari 2000 km dan 300 km di antaranya ada di Hongaria. Ada 8 jembatan yang menghubungkan kedua kota ini dan yang paling terkenal dan tertua adalah Jembatan Rantai (Chain Bridge). Jembatan ini dibangun pada tahun 1842. Sebelum ada jembatan ini penduduk menggunakan jembatan ponton (jembatan apung). Jembatan ponton ini hanya bisa dipakai bila arus sungai Danube tenang. Sementara di musim dingin sebagian sungai Danube membeku sehingga akses hubungan kedua kota mudah dilakukan melalui sungai yang membeku. Penduduk kota Budapest berjumlah 2 juta orang dari total 10 juta penduduk Hungaria. Penduduk aslinya adalah bangsa Magyar. Penduduk asal Hungaria sebenarnya berasal dari Siberia, yaitu bangsa Mongol, yang datang ke Hungaria pada abad ke 7. Kerajaan Hungaria sendiri berdiri pada akhir abad ke 10. Awalnya bangsa Hungaria menganut agama Pagant dan baru pada masa pemerintahan Raja Stephen, Hungaria menjadi negara Katolik dan sejak itulah kemajuan Hungaria sangat pesat dan bahkan pernah menjadi salah satu kerajaan yang cukup besar di Eropa sebelum ditaklukkan oleh invasi pasukan muslim Ottoman dari Turki. Turki sempat menguasai Hungaria selama 140 tahun, sebelum kekuasaan beralih ke kerajaan Austria. Orang yang paling berjasa dalam pengembangan agama Katolik di Hungaria adalah seorang biarawan yang bernama Gallert. Dialah yang memperkenalkan agama katolik kepada rakyat Hungaria. Sejak meninggalnya Raja Stephen, posisi Gallert semakin terpojok dan akhirnya dia dibunuh oleh penguasa berikutnya dengan cara dimasukkan ke dalam tong yang diberik paku-paku dan digelundungkan dari bukit menuju ke Danube River. Maka di atas bukit tersebut kini dibangun Menara Perdamaian, yang melambangkan perdamaian antara kerajaan Hungaria dengan pusat kekuasaan katolik di Roma. Bahkan Raja Hungaria diberi otoritas oleh kepausan di Roma untuk mengangkat Kardinal dan Uskup Agung sendiri sebagai perwakilan Vatican di Hungaria. Di lapangan Hero Square berdiri patung besar Malaikat Gabriel yang tangannya satu membawa mahkota kerajaan Hungaria dan satunya membawa salib yang melambangkan restu kepausan di Roma terhadap kekuasaan Raja di Hungaria. Di monumen ini juga terdapat 7 patung bangsa Mongolia yang melambangkan 7 suku bangsa Mongolia yang pertama kali datang ke Hungaria. Di samping bangsa Hungaria bangsa Yahudi pernah memiliki populasi yang dominan di Budapest, sampai-sampai Budapest dijuluki sebagai Jewish of Mecca atau Judapest. Tetapi populasinya menurun drastis akibat pembantaian bangsa Yahudi oleh German sebelum perang dunia kedua berakhir. Sesudah perang dunia, Hungaria adalah negara komunis di bawah pengaruh Uni Soviet dan baru menjadi negara yang merdeka setelah runtuhnya Uni Soviet dan menjadi Republik Hungaria. Obyek wisata yang pertama kali kami kunjungi pagi ini adalah Matthias Church yang terletak di Castle Hill. Ini adalah sebuah bangunan gereja kuno yang bergaya neo Gothic dan didirikan pada abad ke 14. Dari situ kami menuju ke Monument King Stephen yang digambarkan menunggang kuda. Di sekitar monumen Steven terdapat 7 tower yang melambangkan 7 suku Mongol yang pertama kali menemukan Hungaria. Pemandangan di sekitar Cassle District ini luar biasa indah, khususnya di Fisherman Bastion, yang dulunya adalah tempat nelayan Hungaria berkumpul untuk saling memperdagangkan hasil tangkapan ikannya di sungai Danube. Daerah ini sekaligus digunakan sebagai benteng pertahanan. Dari Fisherman Bastian tampak jelas Parliament Building yang merupakan gedung parlemen ketiga terbesar di Eropa dan dihubungkan oleh Jembatan Margaret dengan kawasan Castle District. Di gedung parlemen itulah disimpan mahkota raja Hungaria. Di Hungaria, mahkota lambang kekuasaan raja jaman dahulu cuman satu dan bukan berganti-ganti seperti raja-raja pada wilayah Eropa lain pada umumnya. Sayang kita tidak diizinkan masuk ke Gedung Parlemen dan mengabadikannya pun agak kesulitan karena jaraknya cukup jauh menyeberangi sungai dan cuaca sangat panas. Apalagi saya ndak bawa lens tele. Selesai dari Castle District di kawasan Buda, kami berjalan menuju ke Hero Square untuk foto bersama. Cuaca sama sekali tidak mendukung karena di tengah teriknya mentari tepat jam 12 siang dan suhu udara sekitar 34 derajad celcius. Ndak banyak obyek fotografi yang bisa dijepret dalam suasana seperti itu. Dalam perjalanan menuju Hero Square, kami melewati jalanan yang punya nilai sejarah tinggi, yaitu Jalan Joseph Attila. Pada jaman sesudah perang dunia kedua, jalanan nan cantik dan rindang ini banyak digunakan oleh penduduk Budapest untuk melepaskan stressnya akibat tekanan perang. Maka setiap akhir pekan banyak warga Budapest duduk-duduk di sepanjang jalan tersebut dan mengenakan pakaian yang bagus-bagus, karena pada kesempatan itulah para muda-mudi akan saling berkenalan dan para orang tua mencari jodoh buat anaknya. Wow berarti mirip jalan Sudirman - Thamrin kalau pas car free day di weekend donk. Cuman bedanya di Jakarta bukan ajang cari jodoh dan mantu seperti jaman baheula. Cukup tempat buat ngowes sambil mejeng. Siapa tahu ada yang nyantol. He... Jalanan lain yang terkenal dan bersejarah yang kami lewati adalah Andrasi Avenue. Di jalanan ini sekarang tempat bercokolnya butik-butik ternama dunia. Mirip dengan Champ Ellise di Paris lah. Pada waktu peresmian jalan ini, para petinggi German yang menjajah Hungaria pada tahun 1896 diundang hadir. Mereka sangat terkesan dengan jalanan ini dan menginspirasi mereka membangun jalan sejenis di Berlin yang bernama Utterden Linden. Obyek wisata yang terakhir kami kunjungi siang ini adalah Basilica St. Stephen. Ini adalah gereja terpenting di Hungaria karena semua raja-raja jaman dahulu dan bahkan presiden dan perdana menteri diambil sumpahnya di gereja ini. Gereja ini dibangun pada tahun 1838 atas prakarsa rakyat sesudah rakyat Hungaria merasa terselamatkan oleh banjir besar yang meluluh lantakkan kota Budapest. Sayang pembangunannya memakan waktu lama sekali dan baru selesai tahun 1896, yaitu pada saat peringatan 1000 tahun berdirinya kerajaan Hungaria. Ada 3 orang arsitek yang merancang bangunan itu. Arsitek pertama meninggal dunia sebelum menyelesaikan bangunannya, demikian pula arsitek kedua. Maka bangunan itu terdiri dari campuran tiga gaya yang berbeda. Tinggi kubahnya 96 m yang melambangkan tahun berdirinya kerajaan Hungaria. Yang menarik adalah adanya patung raja Steven di altar utama gereja. Ini jelas menyalahi pakem gereja katolik di mana di altar utama biasanya hanya ada patung Yesus dan Bunda Maria. Di sebelah kiri gereja juga terdapat sisa bongkahan tangan kanan Raja Steven yang diawetkan di singgasana kecil berlapis kaca. Mbuh kenapa alasannya hanya tangannya yang diawetkan. City tour berakhir jam 13.30 dan dilanjutkan dengan makan siang masing-masing dan acara bebas. Acara bebas adalah istilah lain dari shopping time. Seperti biasa, perempuan tampak antusias berburu apa yang menurut mereka layak "dibeli", mulai dari sepatu sampai beha. Mungkin inilah bedanya Indonesian tour operator dengan yang kelas internasional. Kalau pakai Indonesian tour operator emang akan banyak waktu bebas alias shopping, karena pasarnya memang seperti itu. Beberapa kali ikutan tour dan rasanya emang prioritas para tamu adalah shopping. Padahal barang-barang yang dibeli ya bikinan Indonesia, China, Vietnam dan Bangladesh. Ada satu obyek yang tidak sempat kami kunjungi kali ini, yaitu sub way station. Saya masih ingat bahwa sub way stationnya di Budapest bentuknya masih orisinal, kuno dan penuh ornamen. Ini mirip dengan sub way station di Moscow. Budapest juga merupakan negara kedua di dunia yang memiliki sistem transportasi sub way setelah London. Subway station di Budapest ini juga termasuk dalam warisan budaya dunia yang harus dipelihara. Dan Hungaria seperti Ceko adalah negara yang memiliki paling banyak cagar budaya yang dilindungi. Malam harinya sesudah makan malam kami mengikuti acara tour tambahan Danube River Cruise, yaitu menyusuri sungai Danube dan melihat pemandangan sepanjang bantaran sungai Danube. Kapalnya sendiri sebenarnya cukup besar dan bisa muat lebih dari 100 orang, tetapi kali ini hanya dipakai group kami sendiri. Pemandangan sepanjang sungai Danube di malam hari cukup bagus, tetapi emang permainan lighting di gedung-gedungnya jauh dibandingkan di Eropa Barat. Kalau di Paris menyusuri sungai kita bisa melihat laser show dan lampu warna-warni yang jauh lebih gemerlapan. Di atas cruise kami ngobrol ringan sambil menenggak wine lokal Hungaria yang rasanya lebih manis. Tepat pukul 23.30 kami sampai kembali di hotel. Oya ada satu hal yang menarik tentang Hungaria yang belum diungkapkan. Walaupun secara politis Hungaria sudah menjadi bagian dari Uni Eropa, tetapi mata uang yang digunakan masih mata uang lokal, yaitu Forint. Visa masuk Hungaria pun sudah termasuk dalam visa Schengen. Nilai tukarnya EUR 1 setara dengan Forint 282, atau kalau dirupiahkan Forint 1 setara dengan kira-kira Rp. 45 rupiah. Harga barang-barang branded di Budapest relatif lebih mahal dibandingkan dengan di Paris, tetapi barang-barang local brand relatif lebih murah. Tentu saja ini hanya pengamatan saya secara sepintas yang perlu di cek lagi kebenarannya. Selengkapnya...