Jumat, Juni 12, 2015

Bina Bangsa Commencement Address 2015

Bina Bangsa Commencement Address 2015 Thank you for that kind introduction and thank you for inviting me to speak today. I'm very pleased to be here to join you in celebrating this wonderful occasion. It’s a great honor for me to be here as the speaker for the 10th Commencement Rites at Bina Bangsa School. First of all, congratulations to all of you. You should be very, very proud of yourselves for accomplishing this goal. Well done. To the families of those graduating and earning certifications, congratulations to you and you should know that your support through this process made an enormous impact. I'm sure you're very proud of your graduates as they close this portion of their lives and prepare for their next steps. This is not the first time for me to speak on a graduation day. First was when I graduated from SMA Negeri 1 Tegal as one of the best graduate, representing my friends. Second, I was awarded as the best graduate when I finished my MBA program in Prasetiya Mulya Business School. The third, when I finished my doctoral program in Universitas Indonesia as the best graduate and was awarded MURI record as the fastest doctoral achievement in the field of Strategic Management. But today is very special, because I am not speaking as the graduate, but being invited to deliver the commencement address for one of the best International high school in Indonesia, where my daughter Gabriella Christy Turino, is one of the graduate amongst you. Dear Graduates, Today is really your big day. I know you have been struggling very hard to study since few months ago when you prepared the prelims, IGCSE, AS and finally the A level exam. Hours have been spent, sitting on your studying chair, working on your PYPs and trying to memorize all you can memorize. You have also skipped your chilling time with friends and families and only making dialogue with books and papers. And today, everything is paid off, that you finally graduated. I still remember clearly, 28 years ago, when I graduated from High School. I thought that was the happiest day of my life. No more uniform, no more detention for being late to school, and no more studying as hard as I had in high school. I thought life would be much easier after high school. And I was proven wrong. When I entered university, I realized that the best moment of a student’s life was my days in high school. I missed the moments I spent with my friends; even I missed the moments I interacted with my high school teachers. I never thought in my life that the true friendship was the friendship we built during our time in high school. I believe many of you share the same thoughts as me. You will miss the friendship you have had so far. You will miss the moment you chilled with your friends every weekend, even you will miss the moments you argue with your friends and teachers in the classroom. Those moments will never come back. So in this joyous day, look at your graduating friends. Shake their hands and hug them and say thanks for being our friends passing through the best moment in our life. Trust me, you will all miss it for the rest of your life. Dear Graduates, Now look to your parents respectively. They are the most meritorious people in our lives. Maybe they reprimand us or are upset to see you chiling all the time, playing with your gadgets and very lazy to study. But look at their eyes now. In this room they're the proudest people for the achievements that you made today. But I know, from the bottom of their hearts, as I also feel as a parent, that they are afraid that this moment too will last. There will be no more time to spend with the kids as frequent as before, there will be no more hug and kisses as frequent as before, as you will continue your study in distant universities. They are afraid, as I am, that they will not be anymore the most important person for their children. So lets take this dramatic moment to express our great appreciation to our parents. Thank you Mum and Dad. Lets also take this opportunity to thank you to our teachers, those who have been guiding us almost every single day in our life in school. As teachers, there is no more happiness than receiving a great and sincere appreciation from their students. Dear Graduates, Many of you might think that graduation is just a party or celebration. Yes, it’s true that today is the celebration of your achievement. Graduation is one of those steps in life that defines a coming of age - the ending of one era of life, as a high school student and moving on to a new stage in which you are a junior college or university student. I'm sure all of you have firm plans and have a good idea of what you want to do next. Well the next phase in your life will be exciting, but they will be all dependent on you and your determination. Graduation is just the bridge to continue our study in higher level of education. Human being is essentially a creature learner. So when humans stop learning, they die, mentally and psychologically. More than that, I have a very strong faith in Education as the only way to have a better life. It’s true also that some of the most successful people on earth dropped out of university. Bill Gates is a good example. He is even famous as “the most successful dropped out in the world”. Steve Jobs, the founder of Apple, also dropped out of university. But please note carefully, that those two people decided to drop out from Harvard University once they had their business growing, Microsoft Corporation and Apple. If they dropped out just for the shake of being too lazy to continue their study, I can guarantee that they will be no body at all. Three to four years study in University will have a significant effect on the rest of your life. So keep fighting for it and never give up. Prove to your parents, your teachers and even your country that you are the one to be proud of. Ultimately, your well-educated generation will benefit us all in the future. Let me leave you with this thought from Ralph Waldo Emerson. “Do not follow where the path may lead. Go, instead, where there is no path and leave a trail.” You're now armed with one of the most important tools needed to forge your path ahead. It's not the diploma itself that counts - it's about what you've learned along the way and what you do with the education you've gotten in your journey to graduation today. Your future is in your hands - no one else's. Seize this opportunity. Once again, congratulations. Ijinkanlah saya menutup Commencement Address saya dengan berbicara dengan para orang tua winisuda dengan bahasa Ibu saya, Bahasa Indonesia. Bapak dan Ibu Winisuda yang berbahagia, Saya juga yakin bahwa Bapak dan Ibu saat ini adalah orang-orang yang paling galau. Perasaan bahagia, optimisme, sekaligus kekawatiran dan kebingungan bercampur aduk menjadi satu. Terutama buat para orang tua yang anaknya hendak melanjutkan studi di tempat yang jauh dari kita. Rasa kekawatiran, takut kehilangan semakin hari semakin terasa. Kita tahu pasti, sekali anak kita pergi studi di universitas di luar negeri, mereka tidak akan kembali lagi persis seperti ketika mereka pergi. Proses pendewasaan akan terjadi. Mereka akan punya dunia mereka sendiri. Mereka bukan lagi si kecil yang selalu tertawa riang ketika kita peluk dan cium pipi dan keningnya. Yang lebih berat lagi adalah kita akan kehilangan juga otoritas kita sebagai orang yang paling mereka butuhkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa rekan bisnis saya yang sudah pernah punya pengalaman menyekolahkan anak di luar negeri, berkali-kali mengingatkan saya bahwa “Harris, saatnya akan tiba”. Dan kini saat itu sudah semakin dekat. Gaby ku tidak akan pernah menjadi Gaby yang kemarin. Dia akan menjadi sosok yang berbeda sejalan dengan kedewasaan hidupnya. Bagi saya dan istri saya, ini adalah saat-saat paling sulit yang pernah kami alami. Dan mungkin juga bagi Bapak dan Ibu sekalian. Tetapi sebagai manusia dewasa, kita tahu bahwa ritual ini adalah ritual biasa, yang selalu berulang terjadi dari generasi ke generasi. Masih terbayang dalam ingatan saya ketika Ibu saya menangis tersedu-sedu meninggalkan saya di kota Salatiga tempat saya melanjutkan studi di universitas. Saat itu saya juga ikut terisak, walau sejujurnya saya belum mengerti benar arti dari air mata itu. Antusiasme sebagai “orang dewasa baru” di lingkungan yang baru lebih mendominasi perasaan saya saat itu. Dan kini saatnya akan tiba bagi kita, melepas anak-anak kita untuk studi di tempat yang mungkin jauh sekali dari tempat tinggal kita. Saya sendiri akan berusaha untuk tidak meneteskan air mata ketika waktunya tiba, walau saya tahu, itu bukan hal yang mudah. Demi masa depan anak-anak kita, ini bukanlah pilihan, tetapi sebuah keniscayaan yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Khairil Gibran, pujangga Libanon, yang lahir pada tahun 1883, dalam cuplikan puisinya tentang anak berkata: Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup dan diluncurkan Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan. Terima kasih. Dr. Harris Turino Jakarta, 12 Juni 2015 Selengkapnya...

Senin, Maret 23, 2015

Sindrom De Javu

Carlos Ghosn adalah sebuah nama yang sangat fenomenal waktu menjabat sebagai CEO Nissan tahun 2000 sampai 2005. Dia sangat sukses dalam memimpin proses turn around pada Nissan Motor Corporation setelah bekerja sama dengan Renault dalam bentuk swap ownership. Saat itu Nissan berada di ambang kebangkrutan karena menghadapi masalah cash flow dan kultural yang seperti benang kusut. Kebijakannya dalam membentuk Cross Functional Team (CFT) untuk menjalankan Nissan Revival Plan (NRP) berhasil mengatasi hambatan kultural dan finansial yang saat itu menjerat Nissan. Berkat prestasinya, maka pada tahun 2003 mendapatkan gelar “Man of the Year” dari Fortune Magazine Asia, pada tahun 2005 Carlos Ghosn diangkat menjadi double CEO Nissan dan Renault dan pada tahun 2010 mendapatkan gelar “The Seven Most Powerful South Americans” dari majalah Forbes. Yang menarik adalah prestasinya di Nissan - Renault ternyata tidak sefantastis waktu dia memimpin proses turn around di Nissan. Ada apa gerangan? Di belahan dunia yang lain Ignatius Jonan sangat fenomenal waktu memimpin PT. KAI dan berhasil mereformasi PT. KAI dari perusahaan yang sangat kental dengan budaya in-efficiency karyawan sejak masih menjadi Jawatan Kereta Api di jaman Belanda, menjadi perusahaan yang punya budaya “performance based” seperti saat ini. Jelas ini adalah perubahan revolusioner yang diawali dengan mengganti hampir semua jajaran direktur yang menjadi direct report Jonan dengan orang-orang yang mumpuni dan berkomitmen. Akibat prestasinya yang luar biasa, orang banyak menaruh harap kepada Jonan ketika diangkat menjadi Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi. Beberapa langkah terobosan sudah dilakukan, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan. Ada apa gerangan? Dari dua ilustrasi di atas, menarik untuk dicermati bahwa kesuksesan luar biasa di masa lalu tidak selalu bisa menjamin penciptaan kesuksesan yang sama di masa mendatang. Situasi dan tantangan yang dihadapi berbeda, dan yang lebih penting lagi adalah team pendukung (followers) atau direct reportnya juga berbeda. Kita tidak bisa serta merta menggunakan strategi yang persis sama dengan strategi di mana kita berhasil mencetak kesuksesan di masa lalu. Copy dan paste jelas tidak menjamin keberhasilan. Perlu dilakukan adaptasi bahkan perubahan strategi yang radikal akibat perbedaan kondisi lingkungan yang dihadapi. Banyak pemimpin yang terjebak dengan sindrom de javu, yang sering menyebabkan pemimpin terjebak dengan keberhasilan di masa lalu. Dalam ilmu manajemen stratejik dikenal konsep Dynamic Managerial Capabilities (Adner and Helfat, 2003), yaitu kemampuan pimpinan untuk mengelola organisasi dalam lingkungan yang berbeda-beda. Pada kasus Goshn, Renault tidak dalam situasi krisis seperti halnya Nissan di akhir tahun 1990-an. Strategi turnaround Nissan tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan strategi pertumbuhan di Renault. Pada kasus Jonan, PT KAI lebih mirip seperti organisasi bisnis berorientasi profit dan relatif sedikit pengaruh dari politik. Sedangkan Kementerian Perhubungan adalah organisasi non profit yang sarat dengan kepentingan politik. Memakai strategi yang mirip PT. KAI pada Kementerian Perhubungan akan menurunkan efektifitas strategi tersebut. Jika mau copy dan paste, Jonan perlu merubah dan menambah hal-hal baru yang bersifat terobosan untuk mengulang sukses. Intinya adalah apa yang kita harapkan dari kedua tokoh tersebut bukan pada strategi apa yang telah mereka lakukan sebelumnya, namun lebih pada kemampuannya dalam memodifikasi cara-cara lamanya yang lebih sesuai dengan lingkungan barunya. Itulah hakekat seorang pemimpin. Mari kita melakukan PERUBAHAN. Jangan terjebak pada sindrom de javu. Selengkapnya...

Jumat, Maret 20, 2015

Pygmalion Effect

Tertulislah kisah di jaman Yunani kuno, seorang pujangga pembuat patung bernama Pygmalion. Suatu hari dia membuat patung seorang perempuan yang sangat cantik yang dia beri nama Galatea. Sejak saat itu Pygmalion sangat mengagumi Galatea, patung buatannya, dan bahkan dia jatuh cinta terhadap Galatea. Setiap hari dia bercakap dan bercengkerama dengan Galatea dan dia berdoa kepada Dewa Venus agar Galatea bisa berubah menjadi manusia. Akhirnya Dewa Venus mengabulkan, Galatea benar-benar menjadi seorang gadis yang sangat rupawan. Cerita dongeng itu berakhir dengan kalimat, "and they happily live ever after". Dongeng ini menarik bagi psikolog, Rosenthal and Jacobson (1968), untuk melakukan eksperimen mengenai Self Fulfilling Prophency atau dikenal dengan nama Pygmalion Effect. Kebetulan dia mengajar 3 kelas paralel. Di kelas pertama dia mengkomunikasikan di kelas, bahwa dia menaruh harapan yang sangat tinggi atas prestasi siswa di kelas pertama. Sebaliknya dia sengaja meremehkan siswa-siswa di kelas kedua dan dia tidak memberikan treatment apa-apa di kelas ketiga. Ternyata dalam beberapa kali eksperimen, hasilnya konsisten yaitu kelas pertama mencetak prestasi rata-rata yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas ketiga (tanpa treatment) dan kelas kedua prestasinya jauh di bawah kelas ketiga. Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa bila diberikan harapan dan pujian yang tinggi, maka seseorang akan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Ini yang dikenal dengan Pygmalion Effect. Kondisi sebaliknya disebut Golem. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena kalau kita tahu bahwa pemimpin kita menaruh harapan yang tinggi, maka kita cenderung untuk berusaha memenuhi harapan tersebut. Ini yang disebut Galatea Effect. Satu lagi, yaitu Self Efficacy yang memiliki arti apabila kiya yakin bahwa kita akan sukses, maka kita memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses. Jadi dapat dirumuskan secara matematik bahwa KINERJA = PYGMALION + GALATEA + SELF EFFICACY - GOLEM. Selengkapnya...

Rabu, April 16, 2014

Quo Vadis Jokowi - Kompas Siang 16 April 2014

Selengkapnya...

Rabu, September 18, 2013

Paradoks Sistem Transportasi Massal - Kompas Siang 17 September 2013

Baru-baru ini kita dengar bahwa dalam waktu dekat akan segera diluncurkan mobil murah ramah lingkungan oleh Toyota dan Daihatsu yang dibandrol pada kisaran harga di bawah 100 juta rupiah. Bahkan konon sudah lebih dari 18.000 unit mobil tersebut ludes dipesan pada peluncuran perdananya. Pertumbuhan jumlah kendaraan ini tampaknya susah dihindari mengingat belum tersedianya sistem transportasi massal yang memadai. Bisa dibayangkan kemacetan jalanan di Ibukota yang akan menjadi semakin parah. Tanpa adanya terobosan yang berarti pada sistem transportasi massal diperkirakan kota Jakarta akan lumpuh dalam 3 - 4 tahun ke depan dengan semakin pesatnya pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi oleh penambahan panjang jalan yang memadai. Sistem transportasi massal di Indonesia memang boleh dikatakan unik dan mengandung unsur paradoks. Bila di kota-kota metropolitan dunia sistem transportasi massal bergerak membesar dalam hal daya angkut, di Indonesia yang terjadi adalah sebaliknya. Sejarah menunjukkan pada jaman penjajahan Belanda dulu trem yang memiliki daya angkut besar sudah beroperasi di kawasan kota Jakarta. Sejalan dengan perkembangan jaman, trem menghilang dan digantikan oleh bus PPD dan Damri, lalu ditambahkan Metromini dan Kopaja yang memiliki daya angkut yang lebih kecil lagi dan akhirnya malahan menjadi semakin kecil dengan Mikrolet. Dengan sistem transportasi massal yang seperti ini, mudah diduga bahkan kemacetan pasti akan terjadi dan akan semakin parah di masa mendatang. Dengan kemacetan yang membuat ekonomi transportasi biaya tinggi, baik dalam hal pemborosan energi maupun waktu tempuh, maka merebaknya pemakaian sepeda motor menjadi suatu keniscayaan yang sulit dihindari. Sepuluh tahun yang lalu penulis sudah pernah mengingatkan mengenai pertumbuhan sepeda motor ini kepada Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, bahwa apabila tidak dikendalikan maka kondisi lalu lintas di Jakarta bisa menjadi seperti di kota Ho Chi Minh City (HCMC) di Vietnam, di mana satu mobil bisa dikepung oleh puluhan sepeda motor. Bahkan sekarang yang terjadi di Jakarta sudah jauh lebih parah dibandingkan dengan HCMC. Berbeda dengan penanganan banjir yang memang dibutuhkan dana yang sangat besar dan harus melibatkan pemerintah pusat, kemacetan ini sebenarnya bisa ditangani dengan selembar kertas, yaitu berupa peraturan. Belajar dari pengalaman beberapa pemerintah kota Metropolitan di dunia dalam menyiasati kemacetan lalu lintas, tidak ada jalan lain kecuali dengan memberlakukan pembatasan jumlah kendaraan. Pemerintah kota Beijing, Shanghai dan bahkan Lagos di Nigeria memberlakukan pelarangan sepeda motor untuk beroperasi di jalan-jalan protokol. Singapura menerapkan pengenaan bea masuk dan pajak kendaraan bermotor yang sangat tinggi, pembatasan usia kendaraan bermotor yang boleh beroperasi, pengenaan biaya parkir yang sangat mahal, serta penerapan ERP untuk rute-rute jalan protokol. Wacana seperti itu hampir tidak pernah terdengar, kecuali mengenai kebijakan penerapan sistem ganjil genap dan ERP. Kebijakan tersebut memang tidak popular dan membutuhkan keberanian yang tinggi untuk melaksanakannya. Dan tentu saja hal ini harus diimbangi dengan percepatan pembangunan sistem transportasi massal yang memadai. Di balik kesuraman wajah sistem transportasi di Indonesia, sebuah berita positif terbersit, yaitu dengan akan dimulainya pembangunan MRT tahap satu rute Lebak Bulus - Kota pada bulan Oktober 2013 ini. Rencana ini sebenarnya sudah tertunda hampir 25 tahun dan sudah melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur di DKI, dan baru kali inilah Jokowi berhasil merealisasikannya. Harus pula segera dipersiapkan pembangunan MRT tahap berikutnya. Semoga proses pembangunan MRT ini tidak akan tertunda lagi oleh berbagai konflik kepentingan, baik ekonomi maupun politik, terutama menjelang tahun pemilu 2014. Media sebagai kekuatan yang luar biasa perlu membantu mengawal kesuksesan pembangunan sistem transportasi massal ini. Niscaya Jakarta akan menjadi kota yang lebih beradab. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School Selengkapnya...

Ephoria Jokowi - Rasional atau Bubble? - Kompas Siang 27 Agustus 2013

Meningkatnya popularitas Joko Widodo (Jokowi) akhir-akhir ini memunculkan eforia yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Masyarakat seolah-olah telah menemukan figur Ratu Adil yang selama ini diimpikan, terutama sejak era reformasi bergulir. Setiap gerakan Jokowi, dan wakilnya Ahok, selalu mendapat apresiasi dan pujian secara luas di seluruh media, baik media massa, TV, media cetak, media on line, serta media sosial. Sejak dilantik menjadi Gubernur DKI bahkan banyak media massa berpengaruh di negeri ini menyoroti langkah yang diambil pasangan Jokowi - Ahok dan membuat reportasi kinerja hari demi hari. Belum lagi media sosial seperti facebook, tweeter, blog dan media sosial lainnya juga mengusung topik Jokowi sebagai "hot news" setiap hari. Peranan media ini memberikan kontribusi utama kenaikan popularitas Jokowi dalam survey longitudinal yang dilakukan oleh Kompas. Boleh dikatakan Jokowi saat ini adalah seorang "media darling". Siapapun yang berseberangan dengan Jokowi dalam hal kebijakan bahkan menjadi "public enemy". Kita tentu ingat bagaimana Lurah Warakas Mulyadi yang menolak sistem lelang jabatan Lurah dan Camat, Ketua DPRD DKI yang mengkritik Jokowi soal MRT dan yang paling baru Haji Lulung dalam kasus pembenahan Tanah Abang. Media massa memang memberikan informasi berita secara berimbang, tetapi di media sosial jelas tampak keberpihakan terhadap kubu Jokowi. Kubu penentang Jokowi akan menuai hujatan mengalir bak air bah. Pertanyaan yang menggelitik saya adalah, apakah apresiasi ini memang layak, atau hanya karena ikut-ikutan terbawa eforia yang secara terus menerus diberitakan? Saya mencoba membuat tulisan sederhana ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Popularitas Jokowi jelas akan jeblog dalam jangka panjang jika hanya mengandalkan peranan media dan tidak ditopang oleh kinerja Jokowi sendiri selaku Gubernur DKI. Kerja sama Jokowi selaku Gubernur dengan gaya "njawani" (santun, bersih dan merakyat) dan Ahok selaku Wakil Gubernur dengan gaya "preman balaikota" memang suatu kombinasi yang pas untuk memimpin Jakarta. Dalam 9 bulan kepemimpinannya, terbukti pasangan Jokowi - Ahok berhasil menata waduk Pluit dan pasar Tanah Abang. Ini jelas suatu "mission impossible" yang berhasil diselesaikan oleh Jokowi - Ahok tanpa menimbulkan gejolak sosial yang berarti. Prestasi lain adalah berhasil ditandatanganinya pembangunan MRT yang sudah tertunda lebih dari 25 tahun dan melewati 4 masa kepemimpinan Gubernur. Lelang jabatan Lurah dan Camat juga menjadi terobosan Jokowi untuk meningkatkan kinerja bawahannya. Di samping itu sampai saat ini pasangan Jokowi - Ahok diindikasikan bersih dari suap dan korup, serta konsisten dalam berbicara dan bertindak. Ini yang membuat citra Jokowi terangkat di mata masyarakat Indonesia. Dalam menyongsong tahun politik 2014, Jokowi saat ini dilihat sebagai alternatif terbaik di antara kandidat pemimpin yang ada. Yang menjadi pembanding adalah kinerja pemerintahan pusat saat ini yang terkesan lamban dan sulit keluar dari budaya korup. Pembanding lainnya adalah para calon Presiden yang saat ini digadang-gadang oleh beberapa partai politik. Dari sisi kualitas tidak terdapat calon lain yang cemerlang. Ibaratnya 4L (lu lagi lu lagi). Sementara Jokowi selain konsisten, dia menawarkan cara kerja yang berbeda. Usianya yang relatif masih muda, ditambah gaya blusukan dan komitmennya memberantas korupsi adalah beberapa faktor yang membuat Jokowi menjadi unique and valuable. Dalam teori manajemen, bila ingin mengungguli pesaingnya, maka sebuah perusahaan harus mampu menciptakan keunikan yang bermanfaat bagi pelanggannya. Maka harus diakui juga, keunikan Jokowi menempatkan dirinya berbeda dan unggul di antara kandidat lainnya. Harus diakui bahwa fenomena Jokowi ini juga tidak terlepas dari unsur herding. Yang perlu dicermati adalah jangan sampai herding ini menjadi "bubble" yang akan meletus di kemudian hari. Walaupun demikian eforia masyarakat terhadap Jokowi memang nyata. Ada konsistensi bertindak dan hasil kerja yang dirasakan. Maka media perlu tetap berimbang dalam menyuarakan kritik kepada Jokowi agar tidak "layu sebelum berkembang". Tentu saja harus kritik yang membangun dan rasional, bukan keripik udang di balik batu. Indonesia perlu pemimpin yang bersih, tegas dan berani serta memimpin dengan hati nurani. Dan semua modal itu ada pada diri seorang Jokowi. Harris Turino - Doctor in Strategic Management Faculty Member Prasetiya Mulya Business School Selengkapnya...

Jumat, Agustus 23, 2013

Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana

22 Agustus 2013 Reuni Perak Batalyon Adhi Pradana Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan karier seseorang. Bahkan boleh dikatakan inilah masa-masa di mana seseorang menapaki karier tertinggi dalam kehidupannya. Hari ini rekan-rekan Polri alumni Akpol tahun 1988 yang tergabung dalam Batalyon Adhi Pradana merayakan puncak acara reuni perak pengabdian selama 25 tahun. Acaranya sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak semalam, yaitu diawali dengan makan malam bersama di hotel Patra Jasa Semarang. Kebetulan saya mendapatkan kehormatan untuk bisa menjadi anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana, maka saya hadir pada acara istimewa ini. Dari total anggota Batalyon Adhi Pradana sebanyak 220 orang, 150 orang di antaranya hadir pada acara reuni kali ini. Sungguh satu prestasi yang luar biasa. Di kalangan sipil saja sulit sekali mengumpulkan alumni satu angkatan sebanyak itu dalam suatu acara reuni. Bahkan buat kalangan Polri sendiri, ini juga suatu persentase kehadiran yang istimewa bila dibandingkan dengan rekan-rekan seniornya yang sudah pernah merayakan reuni perak di tahun-tahun sebelumnya. Sebagian besar anggota Batalyon Adhi Pradana, yaitu lebih dari 170 orang sudah menyandang pangkat Kombes, bahkan ada 3 orang di antaranya sudah menyandang satu bintang di pundaknya dan satu orang lagi sudah menduduki job bintang satu juga. Bagi seorang prajurit, pangkat Kombes (atau kolonel di TNI) sebenarnya adalah pencapaian pangkat tertinggi. Lambangnya saja 3 melati di pundak. Melati itu tumbuh dari bumi, maka pangkat Kombes memang harus diraih dari prestasi dan perjuangan dari bawah. Sedangkan bintang (baca: Jenderal) khan turunnya dari langit. Berarti sudah berada di luar kendali kita. Di sinilah makna LUCK (keberuntungan) berperan. Tentu yang saya maksud keberuntungan adalah suatu kombinasi dari kompetensi (di dalam kontrol kita) dan kesempatan yang muncul (di luar kendali kita). Jadi para "Melati di Tapal Batas, Menanti Bintang Jatuh" ini sebenarnya memang harus banyak berdoa dan bekerja sebaik mungkin agar "Semesta Mendukung". He... Dari pengamatan saya pribadi yang sudah bergaul cukup lama dengan rekan-rekan polisi, saya yakin dalam waktu dekat akan ada beberapa lagi rekan Batalyon Adhi Pradana yang akan ketiban bintang. Semoga mereka-mereka yang terbaiklah yang segera mendapatkannya, sehingga bisa lebih memberikan warna yang lebih baik bagi Polri secara keseluruhan. Keikut-sertaanku dalam acara reuni perak Batalyon Adhi Pradana ini sebenarnya berawal 14 tahun yang lalu, ketika aku mengambil studi lanjut di program pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian. Saat itu 12 dari 30 mahasiswa program KIK tersebut adalah anggota Batalyon Adhi Pradana. Semuanya rekan AP saat itu masih berpangkat Kapten. Kami sering bergurau dengan saling menyebut "kutu kupret" untuk melambangkan bahwa mereka memang masih kelas "kutu kupret" alias bukan siapa-siapa. Saya masih ingat ketika kami sama-sama merayakan kenaikan pangkat mereka menjadi Mayor di tahun 1999. Masih terbayang betapa bangganya mereka menyandang sebuah melati di pundaknya sebagai simbol dari Perwira Menengah. Bahkan sampai saat ini saya masih sering memanggil mereka dengan pangkat MAYOR. Dari situlah saya jadi sering mengikuti kegiatan-kegiatan Batalyon Adhi Pradana dan akhirnya secara resmi diakui sebagai anggota kehormatan Batalyon Adhi Pradana. Terima kasih rekan-rekan atas penghargaan yang diberikan kepada saya. Acara reuni pagi ini diawali dengan penyambutan resmi peserta reuni perak Batalyon Adhi Pradana oleh Gubernur Akpol di Lapangan Bhayangkara Akpol. Semua rekan-rekan mengenakan baju PDH Polri lengkap dengan baret Sabharanya. Saya sendiri sebagai anggota kehormatan mengenakan jas lengkap dengan baret Sabhara. Waktu difoto tampak keren juga ya kalau saya pakai baret. He... Sesudah penyambutan dilanjutkan dengan menyaksikan parade dan permainan drumband taruna Akpol tingkat dua. Wow, mereka benar-benar profesional dalam memainkan drum tersebut. Beberapa rekan cerita bahwa Batalyon Adhi Pradana adalah satu-satunya Batalyon yang tidak memiliki tim drumband akibat perubahan sistem di pendidikan Akpol di tahun 1988 dari 4 tahun pendidikan menjadi 3+1 tahun pendidikan dan pasis. Perubahan sistem itulah yang juga membuat adanya 2 Batalyon di tahun 1988, yaitu yang masuk tahun 1984 dan lulus 1988, batalyon AW, dan yang masuk tahun 1985 dan lulus juga tahun 1988, batalyon Adhi Pradana. Kedua batalyon ini dilantik bersama oleh Presiden Soeharto. Kembali ke soal pertunjukan drumband taruna-taruni, gerakan-gerakan mereka sangat gesit dan trengginas. Beberapa atriksi khayang sambil mukul drumb, bas yang diputar-putar sampai mayoret yang melempar-lempat stick komando diperagakan dengan sangat baik. Kalau ada pertandingan drumband, saya yakin tim Akpol dan Akmil akan menjadi yang terbaik. Di swasta sulit sekali menciptakan kedisiplinan dan punya waktu sebanyak itu untuk latihan. Acara dilanjutkan dengan seremoni serah terima Aula Adhi Pradana yang sudah direnovasi oleh rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Di samping kiri dan kanan Aula nan megah itu berdiri masing-masing 8 buah pohon palem yang melambangkan angka 88. Acara pelepasan burung juga mewarnai seremoni ini yang melambangkan anggota Batalyon Adhi Pradana yang sudah melanglang buana bumi nusantara dalam berkarya. Selanjutnya kami memasuki beberapa ruangan tempat rekan-rekan dulu kuliah. Semuanya duduk berbanjar mencoba menirukan gaya-gaya taruna mereka 28 tahun yang lalu. Lucu sekali karena beberapa kursi kuliah sudah ndak muat mereka duduki. Tetapi akibat dipaksa maka kursinya tetap menempel di bokong ketika mereka berdiri. Ha..... Acara selanjutnya adalah seremoni upacara di lapangan di mana masing-masing rekan dibagi menjadi 5 kompi tempat asal mereka dahulu. Acara diawali dengan laporan dari masing-masing kumandan kompi kepada mantan kumandan batalyon Adhi Pradana. Sang Kumendan Batalyon kelihatannya sudah purna tugas dengan pangkat terakhir Kolonel Polisi, sementara 2 dari 5 Kumendan kompi yang lapor adalah seorang Brigadir Jenderal. Karena ini hanya seremoni, maka laporannya lucu-lucu. Salah satu yang saya ingat adalah laporan dari kompi 2 dimana komendan kompi melaporkan, "Lapor, kompi dua jumlah 27 hadir 23, 2 nyuci piring dan 2 sakit, siap mengikuti upacara." Lalu diperagakan bagaimana seorang kumandan batalyon dulu menggampar salah satu anggota kompi satu, rekan Kombes Rio, sampai berputar seperti gasing. Celotehan-celotehan lucu dari mantan Kumendan Batalyon yang memanggil tarunanya dengan sebutan "Hai Monyet" juga lucu-lucu. Semua saat ini tertawa, tapi saya yakin "sang monyet" 28 tahun yang lalu pasti tergopoh-gopoh bahkan mungkin terkencing-kencing di"sapa" sang DanYon. Ha..... Upacara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Batalyon Adhi Pradana dan foto bersama. Sesaat sebelum bubar, kebetulan ada mayor taruna beneran (taruna Akpol tingkat 3) yang lagi upacara siang menjelang makan siang. Beberapa rekan iseng ngerjain sang taruna-taruni itu dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di tengah lapangan upacara yang panasnya audubilah. Tanpa berani membantah sepatahpun mereka berguling seperti bola. Beberapa yang sedang jalan disetop dan ditanya siapa nama bapaknya sambil ngomong "nah sekarang saatnya balas dendam". Yang ditanya hanya bungkam dan paling teriak "siap, siap dan siap". He... satu sisi pembentukan budaya disiplin dan kepatuhan organisasi yang tidak pernah saya alami dalam sepanjang karier saya. Sesudah selingan keisengan beberapa rekan, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama taruna-taruni tingkat tiga. Kebetulan saya satu meja dengan Kombes Eky Heri, Kombes Jan de Fretes, Kombes Ari (Mayor Lemu), 4 orang taruna dan seorang taruni. Format tempat duduknya memang diset demikian. Begitu sampai meja makan aku langsung nengguk minuman yang tersedia. Maklum haus sesudah panas-panasan di lapangan. Tapi aku lihat kiri dan kanan ternyata ndak ada yang nyentuh makanan atau minuman. Oooo ternyata aturannya adalah makan bersama dan selesai bersama. Aku cuman nyengir kuda. Kombes Jan de Fretes cerita bahwa ketika menjadi taruna junior dulu, acara makan adalah acara yang paling menyiksa, di mana dia dan rekan-rekan lainnya pasti dikerjain oleh para seniornya. Perintah menyantap kulit pisang dan kulit jeruk bahkan menjadi menu wajib kalau diperintah senior. Ndak ada kata menolak. Para taruna dan taruni yang makan bersama kami siang itu duduk dengan sikap sempurna. Tidak bergiming, tidak bersuara, tidak tersenyum sama sekali. Hanya berkata bila ditanya, itupun jawaban pendek-pendek khas militer. Sesudah beberapa sambutan, dan laporan yang diikuti tiupan terompet, baru acara makan dimulai. Yang menarik adalah cara para taruna dan taruni makan. Setelah mohon ijin dari senior, mereka mengambil menu makanan di meja satu persatu bergiliran secara tertib. Setelah menu terbagi adil dan habis, baru mereka minta ijin untuk makan. Makannya bersamaan dan tidak ada satupun yang mendahului. Jadi jatah makanan terbagi adil dan tidak ada yang mendapatkan lebih. Selesai makanpun berbarengan dengan aba-aba meletakkan sendok dan garpu. Lalu minta ijin lagi berhenti makan. Wow.... satu pengalaman yang belum pernah saya saksikan sepanjang hidup saya. Saya pikir siang ini saya makan dengan 5 orang robot tanpa ekspresi sama sekali. Tapi begitu kami meninggalkan meja untuk keluar dari ruang makan, saya amati mereka mulai bisa ngobrol dan bercanda ceria. Ternyata mereka bukan robot. He.... Sebelum naik ke bus untuk menuju ke tempat acara "Rembug Adhi Pradana" kami kebetulan melihat taruna-taruni Akpol tingkat satu yang sedang latihan. Mereka membawa ransel, tas cangklong, dan senjata panggul dan diminta berlarian mengelilingi lapangan. Lalu berjalan jongkok menanjak sejauh hampir 300 m. Beberapa diantaranya sampai ngesot-ngesot ndak kuat lagi jongkok dengan beban sebegitu berat. Tetapi mereka tetap tabah dan pantang menyerah. Yang terkapar pun bangkit lagi karena akibatnya bakalan lebih parah kalau menyerah. Sementara para senior dan pelatih berteriak-teriak di samping barisan. Mirip petani menggiring itik menuju sawah. Dengan seragam warna tanah dan topi baja, mereka ngengsot sampe elek. Begitulah kehidupan di dunia Akademi Kepolisian. Di sinilah dibina calon-calon perwira polisi di masa yang akan datang. Saya yakin, jaman dulu ketika Polri masih bagian dari ABRI maka tempaannya lebih berat lagi. Tapi tentu saja bukan cuman fisik yang dibentuk, tetapi juga mental dan intelektual. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan mengenai HAM yang memang sudah dimasukkan kedalam kurikulum Akpol. Dengan pola pembinaan, pelatihan dan pengajaran yang baru, diharapkan Para perwira Polri yang dihasilkan akan jauh lebih baik dan bermartabat. Acara malam hari ditutup dengan makan malam bersama di Akpol. Dalam acara itu diputar ulang perjalanan kilas balik rekan-rekan Adhi Pradana ketika mereka mulai masuk ke Akmil tahun 1985. Walaupun saya tidak ikut mengalami kejadian tersebut, tetapi tetap bisa ikut tertawa menyaksikan kisah-kisah lucu ketika rekan-rekan masih pada kurus dan elek. Tempaan fisik yang begitu hebat tergambarkan secara jelas dan gamblang dalam video kilas balik tersebut. Sebuah pengakuan dari rekan yunior lulusan 1989 dari Batalyon Dharana Lakstarya, mengatakan bahwa hanya dengan satu jari telunjuk yang diputar-putar, seorang tokoh keren mas Riper (Kombes Rio Permana) dan mas Argat (Kombes s Ario Gatut) bisa membuat seluruh anggota Batalyon Dharana Lakstarya berguling-guling dan berputar. Ha..... kelihatannya mas Riper dan mas Argat dalah maskot yang paling menakutkan bagi para junior saat itu. Yah itulah bagian dari kehidupan rekan-rekan sebagai ex taruna Akpol. Saya terkesan dengan sambutan Jenderal Polisi (Purn) Dai Bahtiar, mantan Kapolri dan Dubes Indonesia di Malaysia. Dengan lugas dan gamblang beliau menyampaikan bahwa semenjak keluar dari struktur Polri, mata beliau sebagai purnawirawan semakin tajam menyoroti kinerja Polri saat ini, telinganya semakin peka terhadap semua kritikan yang dulu hampir tidak terlihat dan terdengar. Beliau mengungkapkan contoh ketika mewawancarai masyarakat perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Utara. Betapa sekarang masyarakat merasakan perhatian pemerintah sudah semakin jauh dari harapan. Maka beliau berpesan bahwa reformasi ini belum selesai. Beliau menitipkan kepada para perwira Batalyon Adhi Pradana yang sebentar lagi akan menduduki pucuk-pucuk pimpinan di Polri, agar jangan sampai mengabaikan saudara-saudara kita di luar pusat kekuasaan di pulau Jawa. Beliau juga menitipkan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana mampu menjaga 2 pilar penyangga keutuhan NKRI, yaitu Polri dan TNI agar tetap solid. Suatu pesan moral yang sangat dalam arti dan maknanya. Sesudah dendang lagu terakhir dari Yuni Shara, acara puncak reuni perak Batalyon Adhi Pradana di Akpol Semarang ditutup. Rekan-rekan besok masih akan melanjutkan reuni gabungan Werving 1985 dengan rekan-rekan TNI di Magelang. Saya sendiri memilih untuk tidak mengikuti acara yang lintas angkatan, karena ndak enak dengan rekan-rekan TNI. Akhirnya malam ini kutulis pengalaman yang sangat indah dan mengesankan ini dengan satu harapan agar rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana semakin sukses menapaki puncak karier sebagai anggota Polri yang rata-rata masa dinasnya tinggal 10-12 tahun lagi. Jangan sampai ada yang terpeleset di puncak karier rekan-rekan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi merah dan putihnya republik ini akan ditentukan. Di tangan rekan-rekanlah sebentar lagi citra Polri akan dipertaruhkan. Semoga semakin banyak bintang bersinar dari rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Semoga Polri menjadi semakin berwibawa dan dicintai di bawah pimpinan rekan-rekan Batalyon Adhi Pradana. Salam Adhi Pradana. Loyal Everywhere. Dr. Harris Turino Anggota Kehormatan Batalyon Adhi Pradana Selengkapnya...